Featured Article

Selasa, 13 Januari 2009

PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG.

Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK
akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan
limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak
ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara
langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal.

Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya
menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang
bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram,
sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan,
teman
saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan
acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g.

Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa
Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat
senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang
berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.

SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.

Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal
ini kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan
ukur di Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Dir.
Metrologi-pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen
100 gram.

Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem
Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk
ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah
bagian dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai
satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua
anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan "ons" dan "pound".

Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1
pound = 500 gram, ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang
legal atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara
dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia
internasional, tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia.
Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun.
Sampai kapan mau dipertahankan ?

BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?

Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di
bangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata,
kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena
akan menyesatkan.

Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana
penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah
dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid
(anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh
memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1
pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan
sehari-hari. "Racun" ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak
usia dini.

Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan
yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia
mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk
melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberi-kan
petunjuk resmi.

TANGGUNG JAWAB SIAPA ?

Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan
kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama
kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar
tidak menjadi beban psikologis bagi mereka ;

"acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan
secara internasional , yang menyatakan bahwa :

1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram."?

Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini
diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ?

Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain
Indonesia berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ?

Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku
pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ?

Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini,
sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang
pemakaian satuan "ons" dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah
harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas).. Sistem
baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum
diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia
yang konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound
(Depdiknas) = 500 gram. ? Bagaimana "Ons dan Pound (Depdiknas)" ini
dimasukkan dalam sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa
yang mau pakai ?.

HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.

Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang
merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih
banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah
satu
contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue
dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya.

Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan
masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera
dihentikan.

Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis
mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak
Indonesia. Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki
kesalahan.

Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal
Takar-Timbang- Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun
terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di
Indonesia. Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.

Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak
kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya,
prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan
dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang
sangat berat.

Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru bakal
menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti
aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan
hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan
yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri
yang
berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.

Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar
sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan
penuh dengan tantangan berat.

ACUAN MANA YANG BENAR ?

Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan
juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. (maaf, ini
bukan promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan
lagi.

Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat
dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya
diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.

Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara
internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).

1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100 g.)

1 pound = 453 gram (bukan 500 g.)

1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons)

Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep
obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah
kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ?
Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!!
Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan.
(ini hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan,
bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)

KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN - LALU SIAPA ?.

Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan
pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua
dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan "ons
dan pound yang keliru" dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem
timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai
pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang
benar. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam
kebiasaan kita, yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita,
generasi penerus bangsa ini.

# # # # #

Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun
elektronik yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa. Dipersilahkan
mengubah formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-masing.

Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat
umum, untuk diketahui secara luas.

Bila anda merasa sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan
kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia, silahkan
diperbanyak/ difoto copy dan disebar-luaskan sendiri.

Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini, silahkan
menanyakannya langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi
setempat dikota anda berada.

Terima kasih saya ucapkan kepada anda yang peduli dan mau
berpar-tisipasi menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia. Semoga
Tuhan memberkati upaya ini, yang kita lakukan dengan tulus ikhlas tanpa
pamrih sedikitpun.

Senin, 12 Januari 2009

kisah taubatnya seorang pragawati

Febian, seorang peragawati model busana dari Perancis. Ia seorang pemudi yang berusia dua puluh delapan tahun. Saat ia tenggelam dalam ketenaran dan hangar bingarnya duniawi, hidayah Allah menghampirinya. Sehingga ia menarik diri dan meninggalka dunianya yang gelap itu. Lalu pergilah ke Afghanistan, untuk bekerja pada camp perawatan para mujahidin Afghan yang terluka, di tengah-tengah kondisi yang keras dan hidup yang sulit !


Febian berkata :

“Seandainya, jika bukan karena karunia Allah dan kasih saying-Nya kepadaku, niscaya hidupku akan hilang di dalam dunia.

Banyak manusia yang mengalami kemunduran seakan mereka adalah binatang, semua keinginannya hanyalah untuk memuaskan hawa nafsu dan tabiatnya yang tidak berharga”.

Kemudian ia menceritakan kisahnya, sebagai berikut :


“Sejak masa kecil, aku selalu bermimpi ingin menjadi perawat yang baik. Bekerja untuk meringankan beban penderitaan pada anak-anak kecil yang sakit. Seiring dengan berjalannya waktu, aku mencapai dewasa.


Mulailah aku merawat kecantikan wajah dan postur tubuhku yang bagus. Semua teman-temanku memberikan dorongan –termasuk keluargaku- agar meninggalkan impian masa kecilku, dan memanfaatkan kecantikan wajahku dalam pekerjaan yang dapat mendatangkan keuntungan materi yang banyak, ketenaran dan gemerlapnya dunia, serta impian apa saja yang menyenangkan, bahkan sekalipun hal-hal yang mustahil diraih.


Jalan untuk menuju itu terasa mudah. Atau memang seperti itulah yang nampak bagiku. Sehingga dengan cepat aku menjadi orang yang terkenal.

Berbagai macam hadiah yang mahal dan belum pernah aku membayangkannya berdatangan silih berganti membanjiri tempatku.

Akan tetapi semua itu harus aku bayar dengan harga yang sangat mahal…..


Untuk mendapatkan itu, aku harus bisa melepaskan diri dari fitrafku sebagai manusia. Syarat kesuksesan dan keberhasilanku itu, harus menghilangkan rasa malu yang selama ini melekat dalam diriku. Menghilangkan kecerdasanku, aku enggan belajar apapun kecuali gerakan-gerakan tubuhku dan alunan musik. Selain itu, aku juga harus mengharamkan bagi diriku segala makanan lezat , mengkosumsi berbagai multivitamin kimiawi. Obat penambah tenaga dan obat penumbuh semangat. Sebelum itu semua, aku harus menghilangkan naluriku sebagai manusia.


Aku tidak memiliki benci…., tidak memiliki rasa cinta…, tidak memiliki rasa untuk menolak segala sesuatu.

Sungguh! Rumah-rumah model busana itu telah menjadikan diriku seperti patung yang bergerak. Tujuannya hanyalah menyia-nyiakan hati dan akal. Aku dididik menjadi manusia yang dingin, keras, angkuh, hatiku kering. Diriku hanyalah seakan kerangka (badan) yang mengenakan pakaian. Aku menjadi benda mati yang bergerak: tersenyum namun tidak merasa.


Fenomena itu bukan aku saja yang mengalami, bahkan setiap kali seorang peragawati sukses dalam melepaskan dirinya dari sifat kemanusiaannya, nilainya akan bertambah dalam dunia yang dingin, angkuh dan sombong itu. Jika mereka tidak mengikuti pelajaran-pelajaran dalam busana model itu, dirinya pasti dihadapkan dengan berbagai bentuk siksaan jiwa, dan juga jasmani…!


Aku telah berkeliling ke seluruh penjuru dunia sebagai peragawati. Rancangan model busana terbaru dengan semua apa yang ada di dalamnya: tabarruj (berhias ala jahiliyah, mempertontonkan aurat dan sejenisnya), dan tipuan, mengikuti kehendak-kehendak syetan serta menampakkan hal-hal yang menarik dalam diri wanita tanpa rasa gelisah atau malu”.


Febian melanjutkan ceritanya, dan berkata,

“Selama itu, aku tidak pernah merasakan keindahan model pakaian yang terbalut di atas badanku yang kosong, -kecuali udara dan kerasnya hati-. Pada saat itu aku merasakan pandangan mereka yang merendahkan terhadap diriku sebagai manusia. Mereka hanya menghargai terhadap apa yang aku kenakan dan gerakan tubuhku. Setiap aku bergerak dan berlenggok, mereka selalu berkata, “Seandainya.” Setelah masuk Islam, aku baru tahu bahwa kalimat ‘seandainya’ hanyalah membuka pintu perbuatan syetan. Sungguh, hal itu adalah benar, karena kami telah hidup di alam kehinaan dengan segala dimensinya.


Celakalah, bagi orang yang mengalaminya dan berusaha cukup dengan pekerjaannya saja”.

Mengenai perubahan Febian yang drastis, dari kehidupan berfoya-foya dan sia-sia menuju kehidupan yang lain (berkah), dia berkata,

“Saat itu, kami sedang dalam perjalanan di Beirut yang hancur. Di tengah kehidupan yang carut marut itu, aku melihat banyak orang sedang membangun hotel-hotel berbintang dan rumah-rumah yang megah. Kemudian aku melihat sebuah rumah sakit anak-anak di Beirut. Aku tidak sendirian, ada beberapa teman wanitaku dari patung-patung manusia. Mereka cukup melihat tanpa ada rasa peduli, seperti kebiasaanya.


Tetapi dalam masalah ini, aku tidak bisa sama dengan mereka.

Sungguh- melihat kenyataan itu, pada deti itu pula, terasa hilang kepopuleran, kemuliaan dan kehidupanku yang palsu. Lalu aku menuju anak-anak kecil yang sakit, berusaha menyelamatkan mereka yang masih hidup. Aku tidak kembali kepada teman-temanku di hotel, padahal disana kamera sedang menantiku.


Setelah hari itu, mulailah perjalananku dengan membawa misi kemanusiaan, hingga aku menemukan jalan menuju cahaya hidayah, yaitu Islam. Aku tinggalkan kota Beirut, lalu aku pergi ke Pakistan. Saat di perbatasan Afghanistan, sungguh aku merasakan hidup yang sebenarnya, aku belajar bagaimana menjadi manusia.


Selama delapan bulan aku di sana, membantu keluarga yang kesusahan karena perang. Aku merasa hidup bahagia bersama mereka. Mereka memperlakukan aku dengan baik. Sejak aku memeluk Islam, kebahagiaanku semakin bertambah. Aku rela ia sebagai agama dan undang-undang dan sistem kehidupanku. Dan, aku juga rela hidup bersama keluarga wanita Afghanistan dan Pakistan, dan cara mereka yang religius dalam kehidupan mereka sehari-hari.


Kemudian aku mulai belajar bahasa Arab, yaitu bahasa al-Qur’an. Dalam hal ini, aku telah berhasil mendapatkan kemajuan yang berarti, padahal dahulu aku adalah seorang peragawati.


Dengan ilmu itu, kehidupanku sejalan dengan landasan-landasan Islam dan kerohaniannya” .


Kemudian, Febian menuturkan respon negative dari rumah-rumah busana model dunia itu, setelah ia mendapatkan hidayah. Mereka berusaha dengan berbagai upaya menghalanginya dengan tekanan-tekanan materi secara intensif.


Mereka mengirim barang-barang berharga yang berlipat ganda melebihi dari gajinya setiap bulan, bahkan hingga tiga kali lipat. Mereka selalu mengirimkan berbagai macam hadiah yang mahal kepadanya, agar dia kembali kepada kehidupan semula dan keluar dari Islam.

Namun dia selalu menolaknya.


Dia melanjutkan dengan ceritanya,

“Akhirnya mereka berhenti membujukku. Tetapi mereka terus berusaha untuk membuat jelek diriku didepan keluarga wanita Afghanistan. Mereka melakukan itu dengan menyebarkan sampul-sampul majalah yang bergambar diriku saat pekerjaanku masih menjadi peragawati. Mereka menggantungkannya di jalanan, seakan-akan mereka merasa tersiksa dengan taubatku. Itu mereka lakukan agar terjadi fitnah antara aku dan keluargaku yang baru, tetapi keinginan mereka itu sia-sia, Alhamdulillah.”


Febian memandang tangannya dan berkata,

“Aku tidak pernah menyangka, tanganku yang selama ini selalu ku jaga kehalusannya, aku gunakan untuk pekerjaan yang sulit ini di tengah-tengah gunung. Tetapi kesulitan ini menmbah kesuciantanganku, dan insyaAllah akan ada balasan yang baik disisi Allah subhanahu wata’ala, Insya Allah”.

Minggu, 11 Januari 2009

Who's Birth This Month...

1. Rizki Dwiantoro ( 01 Januari 2009 )
2. Andre Lekong Siswadi ( 08 Januari 2009 )
3. Imam Suryadi ( 14 Januari 2009)


Happy Birthday 2 u... God bless u....
Hope,,ur aim can be reached...

Jumat, 09 Januari 2009

Jawaban jujur seorang anak SD

Request messsage from Yoggi Prasetyo Octavian

Gambar yg di attach adalah jawaban ujian dari salah satu anak SD. Begitulah akibatnya kl para orang tua pada repot kerja dan anak seharian ‘disayang’ sama pembantu.

Selasa, 06 Januari 2009

Istilah dunia marketing

1. Loe liat seorang cewek cantik d sebuah pesta..
loe samperin trus langsung ngomong, 'Gw orang kaya, nikah sama gw yuk!'
Itu namanya Direct Marketing

2. Loe lagi di sebuah pesta sama temen2 gokil loe trus loe tiba2 liat ada cewe cakep banget..
Salah satu temen loe samperin tuh cewe sambil nunjuk ke loe dia ngmg, 'Dia orang kaya, nikah ama dia yah!'
Itu namanya Advertising

3. Loe liat seorang cewek cantik d sebuah pesta.. loe samperin trus minta nomor HP-nya..
besokannya loe telpon dia trus langsung ngomong, 'Gw orang kaya, nikah sama gw yuk!'
Itu namanya Telemarketing

4. Loe liat seorang cewek cantik d sebuah pesta.. loe rapihin dasi gembel loe, loe tuangin minum buat dia, bukain pintu buat dia, bawain barang2nya,
trus sambil loe anterin pulang loe ngomong, 'btw gw orang kaya, nikah sama gw yuk!'
Itu namanya Public Relations

5. Loe liat cewek cantik di sebuah pesta..
Dia nyamperin loe trus ngmg, 'Loe orang kaya kan , nikah sama gw yuk!'
Itu namanya Brand Recognition

6. Loe liat seorang cewek cantik d sebuah pesta..
loe samperin trus langsung ngomong, 'Gw orang kaya, nikah sama gw yuk!'
trus loe dapet gamparan pedes dari dia..
Itu namanya Customer Feedback

7. Loe liat seorang cewek cantik d sebuah pesta..
loe samperin trus langsung ngomong, 'Gw orang kaya, nikah sama gw yuk!'
trus dia kenalin loe ke suaminya..
Itu namanya Demand and Supply Gap

8. Loe liat seorang cewek cantik d sebuah pesta.. loe samperin tp blom juga loe sempet ngmg apa2,
ada cowo laen dateng trus langsung ngomong, 'Gw orang kaya, nikah sama gw yuk!' ..
Itu namanya Marketing Competition

9. Loe liat seorang cewek cantik d sebuah pesta.. loe samperin tp blom juga loe sempet ngmg apa2,
ada cowo laen dateng trus langsung ngomong, 'Gw orang kaya, nikah sama gw yuk!' dan tuh cewe cabut pergi ma itu cowo..
Itu namanya Losing Market Share

10. Loe liat seorang cewek cantik d sebuah pesta..
loe samperin tp blom juga loe sempet ngmg 'Gw orang kaya, nikah sama gw yuk!' .. tiba2 istri loe nongol..!!
Itu namanya Barrier To New Market Entry

Kamis, 01 Januari 2009

happy new year 2009

Popular Posts

Anker's Members :

In Memoriam :