Featured Article

Minggu, 05 Desember 2010

Yvonne Ridley: Ketika Seorang Perempuan Keluar Memakai Jilbabnya, Ia Sedang Berjuang Untuk Islam

Eramuslim- Yvonne Ridley, penulis dan komentator Inggris terkenal, sudah cukup lama memeluk Islam. Banyak hal yang sering ditanyakan kepadanya terkait perpindahan agamanya itu terutama karena ia memeluk Islam setelah berinteraksi dengan para pejuang Taliban. Berikut ini adalah berbagai hal yang sering ditanyakan kepadanya.


Berapa banyak yang Anda tahu tentang Islam sebelum menjadi seorang Muslimah?

Saya hanya tahu sedikit tentang Islam sebelum menjadi Muslimah. Saya hanya tahu apa yang dikatakan oleh media belaka.

Bagaimana Anda memeluk Islam?

Ketika saya ditangkap oleh Taliban, seorang ulama agama mendatangi saya. Dia bertanya pada saya beberapa pertanyaan tentang agama, dan ia juga bertanya apakah saya ingin masuk Islam. Saya ketika itu sangat takut bahwa saya jika memberikan jawaban yang salah, saya akan dibunuh. Setelah berpikir hati-hati, saya berterima kasih kepada ulama tersebut, dan mengatakan bahwa akan sulit bagi saya untuk membuat keputusan yang mengubah hidup sementara saya ditawan. Tap, saya berjanji, jika saya dibebaskan dan kembali ke London, saya mempelajari Islam.

Jadi setelah dibebaskan, saya membaca sebuah terjemahan bahasa Inggris dari Al Qur'an. Ketika saya pulang ke Inggris, saya mencari-cari dalam indeks Al Qur'an, dan membaca bab yang berbeda. Saya kagum dengan hak-hak dalam Islam yang diberikan kepada perempuan, dan itulah yang benar-benar membuat saya tertarik dengan Islam.

Setelah memeluk Islam, bagaimana dukungan terhadap Anda? Bagaimana mungkin seorang gadis pesta dan bergaya hidup Barat, tiba-tiba memeluk Islam?

Ya dan tidak. Saya mendapat banyak dukungan dari saudara saya, saya pikir saya lebih beruntung daripada banyak mualaf yang lainnya. Beberapa mualaf benar-benar membutuhkan dukungan sangat dekat dan pengawasan hampir setiap hari. Sayangnya, banyak dari kami (para mualaf) yang ditinggalkan begitu kami mengatakan kita telah ber-syahadat. Bahkan, saya ingin mengatakan kepada saudara-saudara di luar sana, tahun pertama bagi mualaf merupakan tahun sangat penting. Harap jangan meninggalkan kami setelah kami mengikrarkan Syahadah.

Apa yang menjadi tantangan terbesar Anda setelah memeluk Islam?

Belajar menjadi orang yang lebih baik. Hal ini mungkin terdengar aneh karena saya pikir saya bukanlah orang yang buruk sebelum memeluk Islam, tapi saya perlu belajar etiket Islam, seperti menjadi sabar dan toleran. Bagi mereka yang mengenal saya cukup baik tahu bahwa itulah saat yang berat buat saya.

Bagaimana keluarga dan teman-teman menerima Anda? Apa reaksi mereka?

Semua orang terkejut. Tetapi setelah beberapa saat, mereka tahu bahwa saya bahagia dan sehat. Mereka melihat bahwa apapun itu dalam hidup saya, saya melakukannya dengan sangat baik dengan itu. Teman perempuan saya bertanya, "Apakah kamu masih berpacaran?" saya jawab, "Mengapa kamu masih berpikir bahwa dengan semua hal ini hanya karena harus seorang lelaki?" Maksud saya, Anda harus menerima bahwa saya telah menemukan sesuatu yang memberi saya banyak kebahagiaan, kekuatan batin, dan spiritualitas.

Dengan semua riuh-rendah tentang jilbab, bagaimana Anda mengatasinya ketika Anda memakai jilbab di Inggris?

Saran saya untuk para politisi adalah jauhilah lemari pakaian kami. Saya tidak langsung mengenakan jilbab, dan saya sangat senang Anda bertanya tentang ini. Ketika seorang perempuan memakai jilbab keluar rumahnya, ketika itu ia sedang berjuang untuk Islam, dia ada di garis depan. Ketika berada di luar rumah, semua pelecehan akan dialamatkan kepadanya. Sayangnya, beberapa Muslimah diserang secara fisik karena perdebatan tentang jilbab yang dimulai oleh politisi yang keliru.

Saya salut kepada Muslimah yang memakainya, saya salut akan kekuatan, keberanian dan keyakinan iman mereka.

Untuk mereka yang tidak memakainya, saya akan memberitahu orang-orang di sekitar mereka untuk bersabar dan memberi mereka waktu. Kita semua dalam perjalanan spiritual, beberapa dari kami mencapai tingkat yang jauh lebih cepat daripada yang lain. Ini perlu waktu. Kita tidak harus kritis kepada saudara kita yang tidak mengenakan jilbab, karena ada banyak tekanan dan tegangan. Alih-alih bersikap kritis, kita harus mendukung dan membantu mereka.

Saya pribadi, memakai jilbab butuh waktu bagi saya, dan merupakan bagian dari pertumbuhan dan perkembangan saya sebagai seorang Muslimah. Setiap hari saya berkembang, dan jika kita berbincang dua puluh tahun kemudian, saya masih akan tetap belajar tentang Islam, insyaAllah.

Menurut Anda apa yang diketahui oleh orang-orang non-Muslim tentang Islam?

Kita harus menympaikan kepada Barat bahwa perempuan Muslimah tidak tertindas. Ada banyak isu yang memengaruhi perempuan Barat dan wanita Muslim. Dan apa yang akan saya katakan kepada wanita non-Muslim adalah bahwa ada cukup banyak substansi dan karakter di bawah kerudung itu. Jika anda melihat, Anda akan menyadari bahwa ada beberapa hal yang luar biasa; ada banyak perempuan Muslimah yang berkecimpung di dunia politik, kesadaran internasional, terampil, multi-berbakat di bawah kerudung itu. Jadi, bukannya menghabiskan begitu banyak waktu untuk bertanya-tanya ada apa di balik jilbab itu. Ada banyak feminis Islam. Dan mereka jauh lebih radikal daripada rekan-rekan sekuler mereka.

Lauren Booth: Mengapa Saya Mencintai Islam

Eramuslim- Lauren Booth, dalam sepekan terakhir ini menjadi salah satu pembicaraan hangat di Inggris. Maklum, Booth sepekan yang lalu menyatakan bahwa ia telah masuk Islam. Bukan apa-apa, yang membuat berita ini seperti mengguncang Inggris, itu karena Booth adalah saudara ipar dari Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris. Bagaimana sebenarnya proses dan kehidupan Booth sekarang? Berikut petikan wawancaranya yang diambil dari The Daily Mail.


Bagaimana perasaan Anda sekarang ini?
Saya tahu ini semua tampak tidak masuk akal, tetapi keputusan untuk memeluk Islam tersebut akan menentukan setiap aspek kehidupan saya bawah rel yang mengekspresikan kegembiraan.

Bisa diceritakan awal mulanya?

Mari kita kembali ke Januari 2005, ketika saya tiba sendirian di Tepi Barat untuk liputan The Mail on Sunday. Saya tidak pernah menghabiskan waktu bersama orang-orang Arab, atau Muslim. Saat saya terbang ke Timur Tengah, pikiran saya penuh dengan kalimat-kalimat biasa : ekstremis radikal, fanatik, kawin paksa, pembom bunuh diri dan jihad.

Saya tiba di Tepi Barat tanpa mantel, dan saya menyimpan otoritas bandara Israel di koper saya.

Saya berjalan di Ramallah, dan seorang perempuan menggamit tangan saya tiba-tiba. Saya menggigil. Ia berbicara cepat dalam bahasa Arab, membawa saya ke sebuah rumah di sisi jalan. Apakah saya diculik oleh seorang teroris tua? Selama beberapa menit, dari lemari pakaian putrinya, ia mengeluarkan mantel, topi dan syal.

Saya kemudian dibawa kembali ke jalan dan dipeluk hangat. Tidak ada kata apapun ketika itu di antara kami. Itu adalah sebuah kemurahan hati yang tidak pernah saya lupakan.

Kemudian?

Secara bertahap saya menemukan ekspresi seperti MasyaAllah!', 'Alhamdulillah!' dalam percakapan sehari-hari saya. Saya selalu berdoa dan, sejak kecil, telah menikmati cerita Yesus dan para nabi kuno. Saya sekolah di Brownies, saya dibesarkan dalam rumah tangga yang sangat sekuler. Saya, dulu selalu bangga dengan rambut pirang indah saya dan, ya, tubuh saya.

Selesai?

Pada tahun 2007 saya pergi ke Libanon. Saya menghabiskan empat hari dengan mahasiswa perempuan, semuanya mengenakan jilbab lengkap. Mereka adalah temen-teman yang memesona, independen dan vokal. Mereka bukan gadis pemalu, tidak dipaksa kawin seperti yang saya bayangkan.

Saya sering datang ke masjid. Di sana, ada anak-anak yang bermain, nenek duduk membaca Al-Quran di kursi roda dan sebagainya.

Anda sempat ragu dengan pilihan hidup Anda?

Saya bertanya; apakah saya siap masuk Islam? Apa yang akan dikatakan dunia, teman-teman dan keluarga saya? Apakah saya siap untuk untuk berperilaku moderat dalam banyak hal?

Dan inilah hal yang benar-benar aneh. Saya tidak perlu khawatir tentang hal-hal itu, karena entah bagaimana menjadi seorang Muslim itu sangat mudah.

Sudah sejauh mana Anda membaca Al-Quran?

Sejauh ini saya baru sampai 100 halaman saja, beserta terjemahannya. Al-Quran adalah teks yang serius. Ini akan membantu saya untuk belajar bahasa Arab tapi itu juga akan memakan waktu cukup lama. Saya berhubungan dengan beberapa masjid di London Utara, dan saya berharap bisa rutin mengunjunginya, setidaknya sekali seminggu.

Menurut Anda, jilbab itu bagaimana?

Pakaian sederhana. Mengenakan jilbab berarti saya siap untuk pergi keluar lebih cepat daripada sebelumnya. Padahal saya baru saja mencat merah rambut saya beberapa minggu yang lalu. Ini adalah negara toleran dan tidak ada yang tampak curiga sejauh ini.

Reaksi teman-teman Anda yang non-Muslim?

Mereka penasaran ketimbang memusuhi saya. Mereka bertanya: 'Apakah itu akan mengubah kamu?’, ‘Kita masih teman kan?’, ‘Kita masih minum (bir) kan?’.

Jawaban Anda?

Jawaban atas dua pertanyaan pertama adalah ya. Yang terakhir tentu tidak. Saya berasal dari latar belakang keluarga yang alkoholisme. Saya akan menghindari barang-barang (memabukan) itu. Apa yang bisa lebih baik? Saya tumbuh di sebuah rumah tangga yang penuh dengan alkohol, dengan ayah yang kejam. Itu adalah luka yang tidak akan pernah pulih.

Apakah keluarga Anda mendukung?

Saya belum pernah bertemu lagi dengan ayah saya selama bertahun-tahun. Jadi bagaimana dia bisa tahu apa-apa tentang saya atau memiliki pandangan yang valid tentang masuknya saya ke dalam Islam? Aku hanya merasa kasihan padanya. Sisanya keluarga saya sangat mendukung.

Anda akan menikah lagi?

Ini bukan saatnya bagi saya untuk berpikir tentang membangun hubungan dengan pria. Saya pulih dari pernikahan yang pecah. Dan sekarang akan melalui perceraian. Jika waktunya tiba, mungkin saya akan mempertimbangkan untuk menikah lagi, namun dengan suami yang Muslim.

Apakah anak Anda akan juga akan menjadi Muslim?

Saya tidak tahu, itu terserah mereka. Anda tidak dapat mengubah hati seseorang

Bagaimana reaksi mereka ketika Anda memberitahu Anda masuk Islam?

Saya ketika itu duduk di dapur dan memanggil dua anak gadis saya. “Girls, aku punya berita untuk kalian. Aku sekarang seorang Muslim." Yang tertua, Alex, berkata: "Kami memiliki beberapa pertanyaan." Mereka membuat daftar pertanyaan dan mengajukannya kepada saya. Alex bertanya: 'Apakah Ibu minum alkohol lagi? " Kujawab, “Tidak!” Respon mereka: 'Yay!". Kemudian “Apakah Ibu merokok lagi?” lalu saya menjawab: “Tidak”. Pertanyaan yang paling mengejutkan adalah: “Apakah Ibu akan menunjukkan (maaf) payudara Ibu di depan publik lagi?". 'Sekarang aku ini Muslim," kata saya,"Aku tidak akan pernah lagi menunjukkan payudaraku di depan umum lagi."

Dan kemudian?

Mereka berteriak, "Kami cinta Islam!” dan pergi bermain kembali. Dan saya juga mencintai Islam.


Jumat, 19 November 2010

Antara Allah, Wanita, dan Bagaimana Kita Memahami Realitas: Segitiga Cinta Yang Indah Dilukis Oleh Sayyid Quthb

Sekilas tentang Sayyid Quthb

Dialah Ulama dan Mujahid yang berani mendobrak hegemoni Sosialisme Mesir. Tumbuh dalam rimba kejahillayahan modern dan bergeming untuk turut andil melestarikannya. Walau kesenangan itu sudah berada di depan matanya. Walaupun tahta sudah siap menampuk tubuhnya. Kursi-kursi dunia itu disediakan untuk Sayyid Quthb asal ia bersedia mengakui bahwa kedaulatan Islam belumlah final. Bahwa sistem buatan manusia adalah jalan suci. Parlementari merupakan paras molek membangun kejayaan hidup. Namun apa kata Sayyid? Ia menolaknya. Baginya, rasa sosialisme, nasionalisme, bahkan demokrasi lebih pahit dari kehinaan dunia: sumir!


Sayyid Quthb menolak menafsirkan kata tauhid hanya sekedar pengakuan lisan bahwa Allah adalah Tuhan. Doktor Syariah dari Darul Ulum ini mempelajari Qur’an lebih mendalam, dan ia menyimpulkan bahwa makna tauhid lebih dari itu. Baginya tauhid sudah satu paket dengan keharusan menjalankan hukum-hukum Allah (baca: tauhid hakimiyyah) dan menolak bergabung dalam barisan oposisi tauhid. Memaknai tauhid dalam dua jurang antara al-haqq dan al-bathil yang coba disatukan adalah barisan absurditas yang sama sekali tidak akan mampu membawa Islam jaya. Meskipun itu demi “maslahat dakwah”. Sekalipun itu memakai “baju” Islam. Sayyid sudah tahu ukuran “baju” apa yang pas baginya, tidak lain adalah pengakuan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan kewajiban untuk mengindahkan pencampuran antara hukum Allah dengan hukum positif (baca: hukum buatan manusia). Untuk menyadarkan saudara-saudaranya, sampai-sampai ia harus menulis satu bab penuh dalam buku Dirosah Islamiyah-nya, “Ambil Islam seluruhnya atau tidak sama sekali!”

Ya Sayyid Quthb, dia bukanlah ikhwan pada umumnya. Ia bukan juga ikhwan yang mudah disetir. Membolak-balik tafsir Qur’an demi tujuan dunia. Duduk satu meja dengan musuh-musuh tuhannya, dan keluar dengan titah bahwa Islam boleh disisipi dengan isme lainnya. Itu sama saja memalukan Umat Nabi Muhammad saw. Baginya, pengalaman meneliti kebobrokan sistem pendidikan dan moral di Amerika sudah memberinya kesimpulan bahwa Islam adalah satu-satunya jalan. Bagi Quthb, produk Undang-undang buatan manusia tidak akan pernah bisa sama sekali mengantarkan manusia ke jalan Tauhidullah. Parlemen adalah ruangan tergelap di dunia, dimana ketika manusia memasukinya, ia akan tersesat dan sulit untuk mencari pintu keluar.

Mesir menjadi murka. Negara dengan cap Musolini rasa Arabia itu, meminta hidup Sayyid segera diakhiri. Apapun resikonya. Sayyid adalah bedebah bagi tirani sekularisme, namun angin semilir dalam bumbu jihadi yang menyejukkan dan mustahil berganti. “Selamat datang kematian di jalan Allah, selamat datang kehidupan abadi” ucap Sayyid dalam detik-detik menjelang syahidnya di tiang gantungan.

Perjalanan Cinta Sayyid Quthb: Jatuh Bangun Menjemput Kasih Sayang Allah

Namun dalam deretan kisah heroik itu Sayyid tumbuh dalam bingkai manusia natural. Pemuda yang memiliki niat untuk menikah memang banyak, tapi menikah dengan cara Islam dan memulai prosesnya lewat jalur tunggal berupa keikhlasan sebagai manifestasi cinta kepada Allah adalah minimum. Cinta menjadi dua sisi mata uang dalam kehidupannya: kesedihan dan ketakwaan. Tapi Sayyid Quthb tetap tegar, sekalipun dirinya mengalami dua kali jatuh cinta dan dua kali patah hati.

Seperti dikutip dari berbagai penulis yang mengambil kisah kehidupan Cinta Sayyid Quthb pada sebuah tesis mengenai dirinya, kisah cinta Quthb berjalan pertama kali saat seorang gadis datang mengetuk pintu hatinya. Dialah gadis pertama yang membangkitkan kerinduan Sayyid untuk menautkan cintanya. Embun cinta itu datang dari desa kelahiran. Namun tiga tahun sejak beliau harus menjauhkan raganya dari gadis pujaan ke Kairo untuk menuntut ilmu agama, gadis tersebut ternyata memilih menyerahkan cintanya kepada orang lain. Sayyid merasa terpukul mendengar berita ini. Tak kuasa menahan sedih, seguk tangis tak terbendung. Sangat dimaklumi bagaimana rasanya merelakan kepergian embun cinta pertama yang pernah mengisi relung jiwanya, yang pernah melambungkan asa dan melejitkan potensi kebaikannya. Cinta pertama memang indah, namun sakitnya menusuk ulu hati hingga menganga.

Embun cinta kedua lahir, menyejukkan dan membangkitkan kembali kerinduaan jiwa Sayyid untuk menautkan cintanya karena kecintaan kepada Allah. Gadis kedua ini berasal dari Kairo. Mengenai gadis ini sang Sayyid pernah menggambarkan bahwa paras gadis ini tidaklah buruk namun gagal untuk dibilang cantik. Nampaknya ada pesona lain yang memikat Sayyid sehingga merindukannya. Mungkin tatapan menyejukkan yang dibawa embun cinta ini. Sayangnya, lagi-lagi takdir tidak bermurah hati dengan cinta sang Sayyid. Di hari pertunangannya, Sayyid seakan disambar petir, pasalnya gadis tersebut sambil menangis menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang hadir dihatinya. Perkataan gadis itu seakan meruntuhkan harapan sang Sayyid untuk mendapatkan gadis yang perawan fisiknya, perawan juga hatinya.

Sayyid akhirnya memutuskan hubungan dengan gadis Kairo tersebut, pergi membawa raganya jauh dari embun cintanya. Raga Sayyid boleh saja menjauh, namun jiwanya ternyata tak mampu melepaskan pesona sang embun cinta. Selanjutnya apa yang terjadi? Sayyid tenggelam dalam penderitaan jiwa yang selalu dibawa atas nama cinta. Kesedihan bercampur kerinduan ternyata lebih menyiksa Sayyid dibanding goresan pedang yang menyayat tubuhnya. Akhirnya Sayyid mengorbankan idealismenya kemudian pergi menjemput dan rujuk kembali dengan gadis pembawa embun cinta tersebut. Namun sayang, kali ini gadis itulah yang menolak cinta sang Sayyid.

Perih bukan main gejolak rasa yang dialami Sayyid. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan yang dirasakan Sayyid tersebut. Bahkan tercipta roman-roman yang merupakan bayang-bayang romansa cinta tersebut. Inilah peristiwa kedua yang membuat luka batin sang Sayyid. Saat harapannya menggantungkan cinta terputus oleh kekuasaan takdir. Menorehkan luka yang menganga menabur kepedihan.

Namun bukan Sayyid Quthb namanya bila beliau harus hancur gara-gara cintanya yang terhempas takdir. Dengan kebesaran hati dan sikap husnudzon terhadap takdir Allah, tanpa menafikkan kesedihan yang melanda hatinya, beliau berujar kepada sang Pemilik takdir “Apakah dunia tidak menyediakan gadis impianku? Ataukah pernikahan tidak sesuai dengan kondisiku?”. Saat cinta yang dirindu tak kunjung menerimanya, maka beliau menggantungkan seluruh cintanya pada Dzat yang selalu mencintainya, yang cintanya tidak akan pernah terputus, yang cintanya kekal abadi. Cintanya Allah. Ya, Allah. KepadaNyalah beliau menumpah ruahkan seluruh cinta dan mimpi-mimpinya yang tertolak takdir, sambil berlari menjemput takdirnya yang lain.

Yang luar biasa adalah, Asy-Syahid sadar dirinya berada dalam realitas. Bukan dalam dunia ideal yang melulu posesif, indah dan tanpa aral. Kalau cinta tak mau menerimanya, biarlah ia mencari energi lain yang lebih hebat dari cinta. Ternyata energi tidak jauh-jauh dari kehidupannya, Allah lah Energi yang kemudian membawanya ke penjara selama 15 tahun. Dan di penjara itulah beliau dengan gemilang berhasil menulis tafsir Fi Dzhilalil Qur’an dengan cinta. Sebelum akhirnya harus meregang nyawa di tiang gantungan. Sendiri! Dengan cinta yang sudah tertumpah ruah semua untuk Rabbnya, hanya kepada Rabbnya.

Bahkan dalam novel Duri Dalam Jiwa yang ditulis Sayyid pada tahun 1947 sebelum Sayyid Quthb bergabung dalam gerakan Ikhwanul Muslimin. Sayyid sukses menunjukkan kepiawaiannya dalam mengolah kata dan menyajikan konflik yang pekat dengan empati, melibatkan ilmu jiwa dan penghayatan mendalam. sulit untuk berhenti sejenak membacanya karena takut kehilangan feel yang telah didapat. Dalam novel ini kita diajak untuk merasai lika-liku perasaan manusia dalam mengolah suatu rasa yang disebut cinta, cinta antar manusia. Kita diajak menyelami dalamnya cinta dan kebodohan sekaligus tarikan magnetisnya. Kita diajar untuk menjadi pecinta sejati yang tidak takut untuk berproses mengubah rasa tidak suka menjadi rasa suka, benci menjadi cinta.

"...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2] : 216)

Begitu dalam dan lembutnya Sayyid Quthb dalam bermain kata, pembaca mungkin memerlukan pikiran jernih untuk menangkap pangkal konflik. Mengutip dari pengantar dalam buku ini, di dalam novel ini, Sayyid Quthb secara halus dan lembut mengisyaratkan betapa pentingnya arti keperawanan seorang gadis, karena begitu hal ini diragukan maka persoalan pelik pun akan muncul. Ada perasaan terhina dan luka hati bagai tertusuk duri dan dapat menjadi beban sepanjang hidup.

Membaca buku ini menjadi suatu kenikmatan tersendiri. Begitu banyak hikmah implisit dalam tiap lika-liku perasaan para tokoh yang dihadirkan: cinta, kejujuran, ketulusan, pengorbanan, kepasrahan, dan keberanian.

Problematika Cinta: Sebuah Refleksi

Kita mungkin pernah sama-sama merasakan layaknya seperti Sayyid Quthb bahwa ada suatu fase dalam hidup kita saat dimana pikiran, hati, kaki, tangan, dan jiwa kita disinggahi oleh cinta. Bahkan kita juga sempat mencicipi bagaimana segala kebahagiaan hidup ditentukan dari kesuksesan cinta dalam balutan standar manusia. Pada konten ini kemudian cinta berubah menjadi sayembara yang kerap melontarkan kata-kata penjara jiwa seperti “Hidup kita hancur tanpa keberhasilan menaklukan cinta”. Sedangkan, remaja kerap berkata, “Jika mempunyai kekasih, belajar rasanya akan lebih termotivasi”. Malah bisa jadi ada sumpah serapah yang terlontar kepada laki-laki atau perempuan yang telah mengkhianati cinta kita. Ikhwatifillah, tanpa disadari ternyata kita sudah meletakkan sesuatu yang pasti kepada manusia yang lemah, individu yang justru tak tahu masa depan itu sendiri!

Ketika kita mulai menjajakan cinta dan menggantungkan harapan cinta itu kepada manusia, yakinlah ikhwah, yang ada hanyalah kekecewaan, karena kemampuan manusia sangatlah terbatas. Ia tidak bisa memastikan, lebih-lebih menjadi penentu takdir kita. Padahal manusia tetaplah manusia dengan segala kelemahannya. Adagium, sepandai-padaninya tupai melompat akhirnya jatuh juga bukan sekedar pepatah dalam rangka mengingatkan ikhtiar manusia, karena pada kenyataannya, Allah telah menggariskan kemampuan manusia jauh sebelum adagium itu hadir. “Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa [4] : 28).

“Allah telah menciptakan kalian lemah, kemudian menjadi kuat, lalu setelah kuat kalian menjadi lemah dan tua.” (QS. Rum [30] : 54).

Bahkan pada momentum ayat yang lainnya, Allah dengan terang-terangan mengidentifikasikan manusia dalam keadaan yang begitu rentan terhadap hati. Dalam surah ke 70 ayat 19, Allah berfirman: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir”,

Tidak berakhir di situ, kemudian Allahpun menjelaskan lagi perihal makhluk hidup yang akan membuat kita terangsang untuk lekas mengintropeksi diri, muhasabah, dan kembali kepada khittah kehidupan cinta, yakni firman yang berbunyi selang dua ayat berikutnya, “dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”.

Ada banyak varian dari timbulnya problematika cinta, salah satunya bagaimana kita salah mengelola qalbu dalam cinta. Qolbu adalah wilayah yang urgen dalam kehidupan, hingga Rasulullah saw pernah mengeluarkan hadisnya yang menyentuh,

“Ketahuilah sesungguh dalam jasad ada segumpal darah. Jika ia baik seluruh jasad akan baik pula. Jika ia rusak maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah qalbu.”

Banyaknya manusia yang terpuruk dalam cinta dan dikuasai hawa nafsu tak lepas karena kita telah menggantungkah harapan kepada selain Allah. Merasa diri sombong dengan meletakkan ayat-ayat ilahi sebagai prioritas kedua dalam mengatasi permasalahan kita.

Salah Satu Kunci Kenyamanan Hidup Dimulai Dari Bagaimana Kita Mampu Membangun Suasana Hati

Saudaraku, belajar dari kisah cinta Sayyid Quthb, percayalah bahwa hati yang cemas, kikir, gelisah, kotor, dan merasa lelah menjalani hidup, dikarenakan kita sudah meletakkan standar-standar duniawi sebagai syarat kebahagiaan hakiki. Kita rela menyiksa hidup dengan syarat-syarat wahn yang sebenarnya tak bisa kita lakukan. Kalau kita mau jujur, kesemua itu malah jauh dari sumber kebahagiaan yang sebenarnya, yakni ketenangan hati untuk bagaimana kita selalu berusaha dekat dengan Allah.

Saudaraku, Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu pernah berkata bahwa “Tidak sempurna keselamatan qalbu seorang hamba melainkan setelah selamat dari lima perkara: syirik yang menentang tauhid bid’ah yang menyelisihi As-Sunnah, syahwat yang menyelisihi perintah kelalaian yang menyelisihi dzikir dan hawa nafsu yang menyelisihi ikhlas.”Hamba yang memiliki qalbun salim akan selalu mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkan tempat di surga.

Saudaraku, salah satu kunci kenyamanan hidup dimulai dari bagaimana kita mampu membangun suasana hati. Jika hati kita ikhlash dan bersih dengan penuh ketawadhuan, sesuatu yang kita pandang hina jadi sedemikian mulia, yang tadinya kita pandang kurang ternyata teramat cukup, sesuatu yang kita lihat kecil dan tak berdaya berubah jadi sangat besar dan penuh makna, dan apa yang kita lihat sedikit, ternyata terlampau banyak. Dan itu di mulai dari bagaimana kita hanya bergantung kepada Allah dan menjadi Allah sebagai satu-satunya zat yang mampu membuat kita bangkit setelah terjatuh.

Sekarang pertanyaannya apakah kita mau melepaskan segala ukuran ideal kehidupan kita, kesombongan kita atas pilihan yang jauh dari genggaman kesanggupan kita. Kini, apakah kita juga rela berhenti sejenak melepas atribut keduniawian kita untuk menghadap one by one dengan Allah dengan berkata jujur di depan SinggasanaNya. Jika kita berani, rasakanlah ada aliran kesejukan dan ketenangan yang sebelumnya tidak kita rasakan. Ia menentramkan. Ia pun mampu merubah paradigma kita tentang cinta, hidup, dunia, ujian, dan sebagainya sama sepertia yang Sayyid Quthb rasakan. Jika kita masih bergeming, yakinlah sebenarnya itu kembali kepada diri kita pribadi.

“Maka apabila hari kiamat telah datang. Pada hari ketika manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya. Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada tiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka sesungguh nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabb dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu maka sesungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Naziat [79] : 34-42)

Lebih Afdhol Berdoa Sendiri Atau Ikut Imam




Assalamu'alaykum wr. wb.

Kepada yth. ustad Sigit,saya mau menanyakan tentang berdoa setelah melaksanakan sholat berjamaah, manakah yang lebih afdhol, berdoa sendiri sendiri atau mengikuti imam? Dan apakah ada hadist shahih tentang hal ini. Mohon penjelasannya,jazakallahu khairan.

yadi
Jawaban


Waalaikumussalam Wr Wb

Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam kepada Muadz bin Jabal,”Janganlah kamu melupakan untuk mengucapkan di ‘dubur’ setiap shalat : "ALLAAHUMMA A'INNII 'ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI 'IBAADATIK" (Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepadaMu serta beribadah kepadaMu dengan baik.).” (HR. Ahmad, Abu Daud dan an Nasai)

Para ahli ilmu berbeda pendapat tentang maksud dari dubur shalat didalam hadits tersebut atau hadits-hadits doa lainnya yang semisal. Sebagian ulama mengatakan bahwa maksud dari doa di situ adalah setelah mengucakan salam (selesai) shalat.

Sementara itu sebagian ulama lainnya, termasuk didalamnya Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa maksud dari “dubur shalat” adalah di akhir shalat sebelum salam, pendapat ini didukung dengan hal-hal berikut :

1. Bahwa kalimat “dubur” kebanyakan digunakan untuk bagian dari sesuatu. Dubur hewan adalah bagian darinya begitu juga dengan dubur shalat.
2. Terdapat riwayat bahwa diantara perbuatan Nabi shallallahu wa'alaihi wa sallam setelah shalat tidaklah melakukan doa didalamnya akan tetapi berupa istighfar, tahlil dan tasbih atau dzikir-dzikir lainnya.
3. Bahwa berdoa didalam ibadah lebih utama daripada diluar ibadah.

Sedangkan berdoa secara bersama-sama yang dipimpin oleh imam atau seseorang dari jamaah yang kemudian di”amin”kan oleh para jamaah lainnya maka tidaklah ada riwayat bahwa Nabi shallallahu wa'alaihi wa sallam, para khulafaur rasyidin atau seorang sahabat pun yang melakukan hal demikian dan sebaik-baik petunjuk adalah Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam.

Dengan demikian berdoa sendiri setelah melaksanakan shalat adalah lebih baik daripada berdoa secara berjamaah dengan dipimpin imam atau seorang dari jamaah karena berdoa sendiri setelah shalat adalah perkara yang masih diperselisihkan sedangkan berdoa berjamaah adalah perkara yang tidak ada contohnya dari Rasulullah dan para sahabat.

Wallahu A’lam

Kamis, 18 November 2010

Lowongan Kerja November 2010



PT. Infratech Indonesia, a subsidiary of a Singapore public listed company, United Engineers Ltd. Infratech has core business in the project management and construction of Base Transceiver Stations (BTS) for telecommunication networks. Our team has a collective experience of BTS construction and management of more than a thousand sites in various locations in Indonesia. The team members include professionals with extensive experience in site acquisition, BTS construction, BTS equipment installation and commissioning and some other telecommunication related activities. As a rapidly growing company, InfraTech is continuously growing its organization and people. We are constantly looking for talented and motivated individuals in joining our organization. As part of our growth plan, we are currently looking for individuals with the right skills and attitude for the following position :
ITC Installer


Requirements:

* Pria, max 35 tahun
* Pendidikan Min : SMA atau sederajat
* Memiliki pengalaman sebagai Installasi Transmini BTS Indoor atau Outdoor min : 2 tahun
* Bisa menyetir kendaraan terutama mobil
* Bersedia di tempatkan di wilayah Project di Indonesia


Kirimkan CV ke:
sukma@infratech.co.id

Lowongan Kerja November 2010




URGENTLY REQUIRED

We are a Telecommunication Service Provider for reputable equipment vendors and mobile operators. We are looking out persons who are qualified and highly motivated with dynamic talent to joint our team as :

ENGINEER / LEADER


Kualifikasi :

* Pria/Wanita, Usia maksimal 35 tahun
* Pendidikan STM/SMK - D1/D2/D3 Lulusan Teknik Telekomunikasi atau sederajat
* Fresh graduate di persilahkan melamar
* Menguasai keahlian di bidang telekomunikasi (commissioning, instalasi, BTS, RBS, Minilink)
* Kemampuan komunikasi dengan baik, baik lisan dan tertulis
* Menguasai dasar telekomunikasi (Modulasi Analog dan Digital, QoS, Sistem Transmisi, Sistem Pemancar dan Penerima, Link Budget, Antenna, OFDM, dsb)
* Mampu bekerja optimal dengan pengawasan minimal dalam deadline yang ketat Mampu membuat rencana kerja, staffing, penjadwalan dan controlling secara berkesinambungan untuk mencapai target penyelesaian proyek
* Memiliki keahlian di proyek telekomunikasi (Ericsson, Nokia, B-Tel, ZRE, Huawei) lebih di utamakan
* Memiliki pengetahuan /minat untuk mengusai Metode pelaksanan terkait dengan Pekerjaan Lapangan
* Siap di tempatkan di area



Should you think your qualifications meet our requirements, please submit your application letter and comprehensive CV directly to E-mail : wiryawan@putraalinson.com

Walk intervew kamis s/d Jumat tgl 11 November 2010 s/d 12 November 2010 (office hour)
Contac person 021-7397282 div.HRD

Popular Posts

Anker's Members :

In Memoriam :