Featured Article

Jumat, 31 Oktober 2008

Cara Mengatasi Masalah dengan Polantas

Seorang Polantas menghentikan mobil seorang pria yang ngebut dengan kecepatan tinggi menerobos lampu merah, dan bermaksud menilangnya.
Polantas: "Selamat malam Pak. Tolong lihat SIM-nya".
Pria : "Wah, nggak ada Pak. SIM saya sudah dicabut gara-gara terlalu sering ditilang".

Polantas: (Menyeringai) "Oya .? Kalau begitu, tolong perlihatkan STNK-nya".
Pria : "Nggak punya Pak. Soalnya ini bukan mobil saya. Ini mobil hasil curian".

Polantas: "Mobil curian?"
Pria : "Benar Pak. Tapi, tunggu sebentar. Kalau nggak salah ingat, saya lihat ada STNK di kotak perkakas di jok belakang waktu saya menyimpan pistol saya di sana"
Polantas: "Hah ...? Ada pistol di kotak perkakas?"
Pria : "Iya Pak. Saya menaruh pistol saya di sana ketika saya selesai merampok dan membunuh seorang wanita dan menaruh mayatnya di bagasi".

Polantas: "Ada MAYAT di BAGASI ..?"
Pria : (Dengan muka dingin) "Iya Pak....".

Mendengar demikian, dengan panik si Polantas menelepon atasannya yang kemudian menghubungi Kapolda. Tidak berapa lama kemudian, mobil itu segera dikepung oleh mobil-mobil polisi dan Kapolda mendekati si pria sambil memintanya untuk tetap tenang.

Kapolda: "Boleh saya lihat SIM Anda, Pak ?"
Pria : "Oh, tentu". (SIM-nya masih berlaku dan resmi)

Kapolda: "Mobil siapa ini ?"
Pria : "Mobil saya Pak. Ini STNK saya". (Juga masih berlaku)

Kapolda: " Boleh Anda buka kotak perkakas dengan perlahan dan tunjukkan kepada saya pistol Anda di sana ?"
Pria : "Tentu saja Pak, tapi tidak ada pistol disana". (Tentu saja, memang tidak ada pistol di sana)

Kapolda: "Hmm.. kalau begitu, boleh tolong buka bagasinya? Saya mendapat laporan bahwa ada mayat di sana".
Pria : "Baik Pak ..." (Bagasi dibuka dan memang tidak ada mayat di sana.)

Kapolda: "Saya tidak mengerti. Petugas yang menghentikan mobil Bapak mengatakan bahwa Bapak tidak mempunyai SIM, mencuri mobil ini, punya pistol di kotak perkakas, habis merampok dan membawa mayat di bagasi".

Pria : "Oh, begitukah ceritanya .? Saya yakin si pembohong besar itu juga mengatakan kepada Bapak bahwa saya ngebut melanggar lampu merah .".

Kisah Seekor Kupu-kupu

Di sebuah kota kecil yang tenang dan indah, ada sepasang laki-laki dan perempuan yang saling mencintai. Mereka selalu bersama memandang matahari terbit di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantar matahari senja. Setiap orang yang bertemu dengan mereka tidak bisa tidak akan menghantar dengan pandangan kagum dan doa bahagia. Mereka saling mengasihi satu sama lain Namun pada suatu hari, malang sang lelaki mengalami luka berat akibat sebuah kecelakaan. Ia berbaring di atas ranjang pasien beberapa malam tidak sadarkan diri di rumah sakit. Siang hari sang perempuan menjaga di depan ranjang dan dengan tiada henti memanggil-memanggil kekasih yang tidak sadar sedikitpun.

Malamnya ia ke gereja kecil di kota tersebut dan tak lupa berdoa kepada Tuhan Agar kekasihnya selamat. Air matanya sendiri hampir kering karena menangis sepanjang hari.

Seminggu telah berlalu, sang lelaki tetap pingsan tertidur seperti dulu, sedangkan si perempuan telah berubah menjadi pucat pasi dan lesu tidak terkira, namun ia tetap dengan susah payah bertahan dan akhirnya pada suatu hari Tuhan terharu oleh keadaan perempuan yang setia dan teguh itu, lalu Ia memutuskan memberikan kpada perempuan itu sebuah pengecualian kpada dirinya. Tuhan bertanya kepadanya "Apakah kamu benar-benar bersedia menggunakan nyawamu sendiri untuk menukarnya?" . Si perempuan tanpa ragu sedikitpun menjawab "Ya".

Tuhan berkata "Baiklah, Aku bisa segera membuat kekasihmu sembuh kembali, namun kamu hrs berjanji menjelma menjadi kupu-kupu selama 3 tahun. Pertukaran seperti ini apakah kamu juga bersedia?". Si perempuan terharu setelah mendengarnya dan dengan jawaban yang pasti menjawab "saya bersedia!".

Hari telah terang. Si perempuan telah menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Ia mohon Diri pada Tuhan lalu segera kembali ke rumah sakit. Hasilnya, lelaki itu benar-benar telah siuman bahkan ia sedang berbicara dengan seorg dokter. Namun sayang, ia tidak dapat mendengarnya sebab ia tak bisa masuk ke ruang itu.

Dengan di sekati oleh kaca, ia hanya bisa memandang dari jauh kekasihnya sendiri. Beberapa hari kemudian, sang lelaki telah sembuh. Namun ia sama sekali tidak bahagia. Ia mencari keberadaan sang perempuan pada setiap orang yang lewat, namun tidak ada yang tahu sebenarnya sang perempuan telah pergi kemana.

Sang lelaki sepanjang hari tidak makan dan istirahat terus mencari. Ia begitu rindu kepadanya, begitu inginnya bertemu dengan sang kekasih, namun sang perempuan Yang telah berubah menjadi kupu-kupu bukankah setiap saat selalu berputar di sampingnya? Hanya saja ia tidak bisa berteriak, tidak bisa memeluk. Ia hanya bisa
memandangnya secara diam-diam. Musim panas telah berakhir, angin musim gugur yang sejuk meniup jatuh daun pepohonan. Kupu-kupu mau tidak mau harus meninggalkan tempat tersebut lalu terakhir kali ia terbang dan hinggap di atas bahu sang lelaki.

Ia bermaksud menggunakan sayapnya yang kecil halus membelai wajahnya, menggunakan mulutnya yang kecil lembut mencium keningnya.
Namun tubuhnya yang kecil dan lemah benar-benar tidak boleh di ketahui olehnya, sebuah gelombang suara tangisan yang sedih hanya dapat di dengar oleh kupu-kupu itu sendiri dan mau tidak mau dengan berat hati ia meninggalkan kekasihnya, terbang ke arah yang jauh dengan membawa harapan.

Dalam sekejap telah tiba musim semi yang kedua, sang kupu-kupu dengan tidak sabarnya segera terbang kembali mencari kekasihnya yang lama di tinggalkannya. Namun di samping bayangan yang tak asing lagi ternyata telah berdiri seorang perempuan cantik. Dalam sekilas itu sang kupu-kupu nyaris jatuh dari angkasa.Ia benar-benar tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya sendiri. Lebih tidak percaya lagi dengan omongan yang di bicarakan banyak orang. Orang-orang selalu menceritakan ketika hari natal, betapa parah sakit sang lelaki. Melukiskan betapa baik dan manisnya dokter perempuan itu. Bahkan melukiskan betapa sudah sewajarnya percintaan mereka dan tentu saja juga melukiskan bahwa sang lelaki sudah bahagia seperti dulu kala .

Sang kupu-kupu sangat sedih. Beberapa hari berikutnya ia seringkali melihat kekasihnya sendiri membawa perempuan itu ke gunung memandang matahari terbit, menghantar matahari senja di pesisir pantai. Segala yang pernah di milikinya dahulu dalam sekejap tokoh utamanya telah berganti seorang perempuan lain sedangkan ia sendiri selain kadangkala bisa hinggap di atas bahunya, namun tidak dapat berbuat apa-apa.

Musim panas tahun ini sangat panjang, sang kupu-kupu setiap hari terbang rendah dengan tersiksa dan ia sudah tidak memiliki keberanian lagi untuk mendekati kekasihnya sendiri. Bisikan suara antara ia dengan perempuan itu, ia dan suara tawa bahagianya sudah cukup membuat hembusan napas dirinya berakhir, karenanya sebelum musim panas berakhir, sang kupu-kupu telah terbang berlalu. Bunga bersemi dan layu. Bunga layu dan bersemi lagi. Bagi seekor kupu-kupu waktu seolah-olah hanya menandakan semua ini.

Musim panas pada tahun ketiga, sang kupu-kupu sudah tidak sering lagi pergi mengunjungi kekasihnya sendiri. Sang lelaki bekas kekasihnya itu mendekap perlahan bahu si perempuan, mencium lembut wajah perempuannya sendiri. Sama sekali tidak punya waktu memperhatikan seekor kupu-kupu yang hancur hatinya apalagi mengingat masa lalu.

Tiga tahun perjanjian Tuhan dengan sang kupu-kupu sudah akan segera berakhir dan pada saat hari yang terakhir, kekasih si kupu-kupu melaksanakan pernikahan dengan perempuan itu.

Dalam kapel kecil telah dipenuhi orang-orang. Sang kupu-kupu secara diam-diam masuk ke dalam dan hinggap perlahan di atas pundak Tuhan. Ia mendengarkan sang kekasih yang berada dibawah berikrar di hadapan Tuhan dengan mengatakan "saya bersedia menikah dengannya!". Ia memandangi sang kekasih memakaikan cincin ke tangan perempuan itu, kemudian memandangi mereka berciuman dengan mesranya lalu mengalirlah air mata sedih sang kupu-kupu.

Dengan pedih hati Tuhan menarik napas "Apakah kamu menyesal?". Sang kupu-kupu mengeringkan air matanya "Tidak". Tuhan lalu berkata di sertai seberkas kegembiraan "Besok kamu sudah dapat kembali menjadi dirimu sendiri". Sang kupu-kupu menggeleng-gelengka n kepalanya "Biarkanlah aku menjadi kupu-kupu seumur hidup".

Ada beberapa kehilangan merupakan takdir. Ada beberapa pertemuan adalah yang tidak akan berakhir selamanya. Mencintai seseorang tidak mesti harus memiliki, namun memiliki seseorang maka harus baik-baik mencintainya.

Mencintai yang Tidak Sempurna

Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, itulah kesempatan.

Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, itu bukan
pilihan, itu kesempatan.

Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan, itupun adalah kesempatan.

Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.

Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi, itu adalah pilihan.

Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu dan tetap memilih untuk mencintainya, itulah pilihan.

Perasaan cinta, simpatik, tertarik, datang bagai kesempatan pada kita.Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan. Pilihan yang kita lakukan.

Berbicara tentang pasangan jiwa, ada suatu kutipan dari film yang mungkin sangat tepat : "Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap bergantung pada kita bagaimana membuat semuanya berhasil"

Pasangan jiwa bisa benar-benar ada. Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang yang diciptakan hanya untukmu. Tetapi tetap berpulang padamu

Untuk melakukan pilihan apakah engkau ingin Melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, atau tidak...

Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita, Tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita adalah pilihan yang harus kita lakukan.

Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.

Senin, 27 Oktober 2008

Teknologi Telekomunikasi di Indonesia

Saya mendapat kiriman e-mail tentang kemajuan teknologi berkomunikasi suatu bangsa yang ternyata telah hebat sejak jaman dulu. Saya tuliskan kutipannya :

kutip


Mexico:

Arkeolog Mexico melaporkan, bahwa mereka melakukan penggalian diantara reruntuhan peradaban Aztec. Setelah melakukan penggalian sedalam 300m mereka menemukan kotak surat. Dapat diambil kesimpulan bahwa 500 tahun yang lalu, suku Aztec sudah mengenal surat menyurat dalam berkomunikasi.


Mesir:
Ahli purbakala Mesir yang telah melakukan penggalian di sebelah patung Spinx menemukan kabel telepon pada kedalaman 200m. Bangsa Mesir mengklaim mereka sudah mengenal telepon sejak jaman King Tut.


China:

Setelah melakukan penelitian diantara patung Teracota, ditemukan serat kaca. Bangsa China mengklaim peradaban mereka lebih maju dari bangsa Mesir, karena sudah mengenal fiber optic sejak dinasti Ming.


Indonesia:

Dinas purbakala Pemda Magelang yang melakukan penggalian disamping candi Borobudur sampai kedalaman 100 meter tidak menemukan apa-apa. Dilanjutkan sampai kedalaman 500meter lalu 1000meter. Mereka tetap tidak menemukan sesuatu selain tanah dan batu. Kemudian mereka mengambil kesimpulan, bahwa bangsa Indonesia ternyata paling maju dari bangsa-bangsa di dunia. Sejak jaman dinasti Saylendra bangsa kita sudah menggunakan teknologi wireless.

Tidak Selalu Harus Berwujud "Bunga"

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai
sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat
yang muncul di perasaan saya, ketika saya bersandar di
bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam
masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai
merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu
telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar
sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan
saat-saat romantis seperti seorang anak yang
menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah
saya dapatkan.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan.Rasa
sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam
menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan
kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta
yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan
keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan
perceraian.

"Mengapa ?", tanya suami saya dengan terkejut.

"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta
yang saya inginkan," jawab saya.

Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di
depan komputernya, tampak seolah-olah sedang
mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan saya
semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak
dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa
saya harapkan darinya ?

Dan akhirnya suami saya bertanya," Apa yang dapat saya
lakukan untuk merubah pikiran kamu ?"

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan
pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat
menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan
merubah pikiran saya:
Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang
ada di tebing gunung. Kita berdua tahu jika kamu
memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan
memetik bunga itu untuk saya ?"

Dia termenung dan akhirnya berkata,"Saya akan
memberikan jawabannya besok."

Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya
menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya
dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang
bertuliskan. ..

"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu,
tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."

Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya. Saya
melanjutkan untuk membacanya.

"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ' teman baik kamu
' datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan
tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal."

"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir
kamu akan menjadi aneh'.

Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur
kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk
menceritakan hal-hal lucu yang saya alami."

"Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu
dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan
mata kamu.

Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua
nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku
kamu dan mencabuti uban kamu."

"Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing
kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan
pasir yang indah.

Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah
seperti cantiknya wajah kamu."

"Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah
yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati..
Karena, saya tidak sanggup melihat air mata kamu
mengalir menangisi kematian saya."

"Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa
mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk
itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan
saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya
tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki,
dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat
tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetapberusaha
untuk terus membacanya.

"Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca
jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini,
dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah
ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang
sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu."

"Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang,
biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang
saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu.
Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia."

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya
berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil
tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah
mencintai saya lebih dari dia mencintai saya.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah
berangsur-angsur hilang dari perasaan kita, karena
kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam
wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya
telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita
bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud
cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud
tertentu. Karena cinta tidak selalu harus berwujud
"bunga".

Bersyukur...

Allah SWT berfirman, "Jika kamu sekalian bersyukur, maka Aku (Allah)
akan memberikan tambahan nikmat kepada kamu sekalian".
Dari Yahya bin Ya'la dari Abu Khubab dari Atha' diceritakan bahwa ia
bertemu Aisyah RA bersama Ubaid bin Umair, lalu mengatakan,
"Berikanlah kami berita tentang sesuatu yang paling mengagumkan dari
RasuluLlah SAW yang pernah engkau lihat".


Aisyah menangis lantas menjawab, "Keadaan RasuluLlah yang mana yang
tidak mengagumkan ? di waktu malam Beliau datang kepadaku. Beliau
masuk ke tempat tidur bersamaku sehingga kulitku bersentuhan dengan
kulitnya. Beliau mengatakan, Wahahai putri Abu Bakar, tinggalkanlah
diriku, saya sedang beribadah kepada Tuhanku".
"Saya ingin lebih dekat denganmu". Pintaku. Wanita agung ini lantas
minta izin untuk mengambil gerabah air. Beliau berwudhu dan menuangkan
air begitu banyak. Setelah itu RasuluLlah SAW berdiri dan mengerjakan
shalat. Beliau menangis sehingga air matanya bercucuran sampai ke
dadanya. Beliau ruku', sujud, dan mengangkat kepala dan masih dalam
keadaan menangis. Beliau selalu seperti itu sampai Bilal datang,
kemudian menyerukan azan untuk mengerjakan shalat. Aku bertanya
kepada RasuluLlah SAW, "Ya RasuluLlah SAW, apa yang membuatmu
menangis, padahal Allah SWT telah mengampuni dosamu baik yang telah
lalu maupun yang akan datang ?"
Beliau menjawab, "Apakah saya tidak boleh menjadi hamba yang
bersyukur. Kenapa saya tidak berbuat yang demikian, sedangkan Allah
SWT menurunkan kepadaku ayat :
Inna fii khalqissamaawaati……sesungguhnya tentang kejadian langit dan
bumi, perbedaan siang dan malam , kapal yang berlayar di lautan
(membawa) barang yang berfaedah bagi manusia, hujan yang diturunkan
dari langit, lalu dihidupkan-Nya dengan air tersebut bumi yang telah
mati, berkeliaran di atasnya tiap-tiap yang melata, angin yang bertiup
dan awan yang terbentang antara langit dan bumi, sesungguhnya semua
itu merupakan ayat-ayat bagi orang yang berfikir. (QS Al-Baqarah 164).

Atas pandangan ini dapat ditarik pengertian bahwa Allah SWT selalu
bersyukur, artinya Allah SWT akan membalas hamba-Nya yang bersyukur.
Pembalasan ini dinamakan syukur sebagaimana firman Allah SWT :
Dan pembalasan orang yang berbuat jahat adalah kejahatan yang
setimpal. (QS. Asy-Syura 40)
Menurut satu pendapat, bersyukurnya Allah SWT adalah memberikan pahala
atas perbuatan pelakunya sebagaimana ungkapan bahwa hewan yang
bersyukur adalah hewan yang gemuk karena selalu diberi makan. Hal ini
dapat dikatakan bahwasanya hakikat syukur adalah memuji yang
memberikan kenikmatan dengan mengingat kebaikannya. Bersyukurnya hamba
kepada Allah SWT adalah memuji-Nya dengan mengingat kebaikan-Nya.
Sedangkan syukurnya Allah SWT kepada hambanya bearti Allah SWT memuji
kepadanya dengan mengingat kebaikannya. Perbuatan baik hamba adalah
ta'at kepada Allah SWT sedangkann perbuatan baik Allah SWT terhadap
hambanya adalah memberikan kenikmatan dengan memberikan pertolongan
sebagai tanda syukur. Hakikat syukur bagi hamba adalah ucapan lisan
dan pengakuan hati terhadap kenikmatan yang telah diberikan oleh Tuhan.
Syukur terbagi menjadi tiga, Pertama syukur dengan lisan. Yakni
mengakui kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah SWT dengan sikap
merendahkan diri. Kedua, syukur dengan badan, yakni bersikap selalu
sepakat dan melayani (mengabdi) kepada Allah SWT dengan konsisten
menjaga keagungan-Nya. Syukur lisan adalah syukurnya orang berilmu,
ini dapat direalisasikan dengan bentuk ucapan. Syukur dengan badan
adalah syukurnya ahli ibadah. Ini dapat direalisasikan dengan bentuuk
perbuatan. Syukur dengan hati adalah syukurnya orang ahli ma'rifat.
Ini dapat direalisasikan dengan semua hal ihwal hanya untuk Allah
secara konsisten.
Menurut Abu Bakar Al-Waraq, yang dimaksud mensyukuri nikmat adalah
memperhatikan pemberian dan menjaga kehormatan. Menurut Hamdun
Al-Qashar yang dimaksud mensyukuri nikmat adalah memperhatikan dirinya
meskipun tidak diundang. Menurut Al-Junaid, yang dimaksud syukur
adalah sebab, karena dia mencari dirinya yang telah memperoleh
kelebihan. Dia selalu menghadap Allah SWT karena memperoleh bagian
dirinya. Menurut Abu Utsman, yang dimaksud syukur adalah mengetahui
kelemahan syukur itu sendiri.
Ada yang berpendapat, bahwa syukur di atas syukur adalah lebih
sempurna dari syukur itu sendiri. Artinya kita harus memperhatikan
syukur karena merasa telah mendapatkan pertolongan dari Allah SWT
berupa kenikmatan. Kita bersyukur di atas syukur dan bersyukur di atas
syukurnya syukur sampai kepada sesuatu yang tidak ada puncaknya.
Menurut yang lain, yang dimaksud syukur adalah menyandarkan berbagai
kenikmatan kepada Allah SWT dengan sikap merendah diri. Menurut
Al-Junaid yang dimaksud syukur adalah tidak menganggap dirinya sendiri
sebagai pemilik kenikmatan. Sedangkan menurut Ruwaim, yang dimaksud
syukur adalah melepaskan kemampuan, merasa semua itu adalah pemberian
Allah bukan atas usahanya sendiri.
Menurut satu pendapat, yang dimaksud syakir orang yang bersyukur
adalah orang yang mensyukuri sesuatu yang ada. Sedangkan yang
dimaksud syakur (orang yang ahli bersyukur) adalah orang yang ahli
mensyukuri sesuatu yang tidak ada. Menurut pendapat yang lain, yang
dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri pemberian, sedangkan yang
dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri penolakan. Menurut
sebagian ulama, yang dimaksud syakir adlah orang yang mensyukuri
pencegahan. Menurut sebagian yang lain lagi, yang dimaksud syakir
adalah orang yang mensyukuri pemberian, dan yang dimaksud syakur
adalah orang yang mensyukuri cobaan. Menurut sebagian ulama, yang
dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri kemurahan, sedang yang
dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri penangguhan.
Al-Junaid berkata, "saya bermain di depan Syaikh Sarry As-Saqathi
ketika aku berumur tujuh tahun. Di hadapannya terdapat sekelompok
orang yang sedang membicarakan syukur. Dia mengatakan kepadaku, "Wahai
anak kecil, apa itu syukur ?" Saya menjawab, `Tidak mempergunakan
nikmat untuk bermaksiyat kepada Allah SWT'. Beliau mengatakan,
"Lisanmu hampir saja mendapatkan bagian dari Allah SWT". Kemudian
Al-Junaid berkata, `saya selalu menangis apabila mengingat kata-kata
yang diucapkan oleh Sariy'".
Menurut As-Syibly, yang dimaksud syukur adalah memperhatikan Dzat yang
memberikan kenikmatan, bukan kepada kenikmatan-Nya. Menurut satu
pendapat, yang dimaksud syukur adalah mengatur sesuatu yang telah ada
mencari sesuatu yang belum ada. Menurut Abu Utsman, yang dimaksud
syukur orang awam adalah orang yang bersyukur kepada yang memberikan
makanan dan pakain. Sedangkan yang dimaksud syukurnya orang khawash
adalah orang yang bersyukur kepada sesuatu yang terlintas di dalam hati.
Menurut satu ungkapan, Nabi Dawud AS pernah mengatakan, "Yaa Tuhan,
bagaimana saya bersyukur kepada-Mu sedangkan syukurku kepada-Mu adalah
ni'mat darimu." Maka Allah SWT menurunkan wahyu kepadanya :"Dawud
sekarang Engkau telah bersyukur kepada-Ku".
Demikian juga yang terjadi pada Nabi Musa AS ketika bermunajat kepada
Allah, "Yaa Allah Engkau telah menciptakan Nabi Adam dengan
kekuasaan-Mu dan berbuat demikian…demikian… . Bagaimana tentang
syukurku ?" Allah SWT berfirman, "Adam mengetahui hal-hal itu dari-Ku.
Oleh karena itu kema'rifatannya merupakan syukur kepada-Ku".
Menurut satu cerita, seorang laki-laki memasuki rumah Sahal bin
AbduLlah. Dia mengadukan sesuatu kepadanya, "Sesungguhnya seorang
pencuri telah memasuki rumahku dan mengambil barang daganganku."
Setelah itu pencuri mengatakan, "Bersyukurlah kepada Allah SWT.
Seandainya ada pencuri memasuki hatimu, sedang ia adalah setan
kemudian ia merusak tauhidmu, apa yang harus kau kerjakan ?"
Menurut satu pendapat, yang dimaksud syukur kedua mata adalah menutupi
cacatnya teman yang pernah kita lihat. Sedangkan yang dimaksud
syukurnya kedua telinga adalah menutupi cacatnya teman yang pernah
kita dengar. Menurut yang lain, yang dimaksud syukur adalah merasa
senang dengan pemberian yang belum pernah didapatkan.
Al-Junaid mengatakan, Syaikh Sariy apabila hendak menolongku dia
bertanya kepadaku. Suatu hari ia bertanya kepadaku, "Wahai Abul Qasim,
apa syukur itu ?"
"Jangan meminta pertolongan agar mendapatkan kenikmatan dari Allah SWT" .
"Dari mana hal itu kau peroleh ?"
"Dari tempat-tempat pengajianmu"
Menurut satu pendapat, Hasan bin Ali pernah metapkan syukur sebagai
rukun. Dia juga pernah mengatakan, "Ya Tuhan Engkau telah memberikan
kenikmatan kepadaku, tetapi Engkau tidak mendapati diriku sebagai
orang yang bersyukur. Engkau telah memeberikan cobaan kepadaku, namun
Engkau tidak mendapati diriku sebagai orang yang sabar. Engkau tidak
pernah menghilangkan kenikmatan hanya disebabkan tidak adanya syukur
dan Engkau tidak pernah menimpakan kesusahan disebabkan tidak adanya
sabar. Ya Tuhan tiada Dzat Yang Maha Mulia kecuali kemuliaan-Mu" .
Sebagian ulama mengatakan, "apabila engkau perpendek tanganmu untuk
menghindari balasan, maka panjangkanlah lisanmu dengan bersyukur".
Menurut satu pendapat, ada empat perbuatan yang tidak menghasilkan
buah. Pertama, orang tuli yang berbicara. Kedua, orang yang memberikan
kenikmatan kepada orang yang tidak pernah bersyukur. Tiga, orang yang
menanam biji-bijian di tanah yang keras. Ke empat, orang yang
menyalakan lampu di tengah sinar matahari".
Ketika Nabi Idris AS diberi ampunan, Beliau bertanya tentag kehidupan.
Beliau kemudian balik ditanya oleh malaikat, "Untuk apa?".
"Untuk mensyukurinya, karena sebelumnya saya tidak pernah berbuat
untuk mendapatkan ampunan".
Setelah itu Malaikat menurunkan sayapnya dan membawa Nabi Idris AS ke
langit.
Dalam cerita yang lain dijelaskan salah seorang dari para Nabi
menemukan batu kecil yang mengeluarkan air begitu banyak. Dia sangat
mengaguminya. Maka kemudian Allah SWT memberikan kemampuan kepada batu
tersebut untuk berbicara.
"Saya pernah mendengar Allah SWT berfirman, "Takutlah kepada api
neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan". (QS.
Al-baqarah 24).
"Saya (batu) menangis karena takut kepada Allah SWT". Kata sang batu.
Nabi tersebut kemudian mendoakan agar Allah SWT menyelamatkan batu
itu. Setelah itu Allah SWT menurunkan wahyu kepada sang Nabi, "Aku
telah menyelamatkan batu itu dari api neraka".
Sang Nabi kemudian pergi. Dan setelah kembali dia melihat air masih
memancar dari batu tersebut, karenanya sang Nabi merasa heran. Allah
SWT kembali memberikan kemampuan kepada batu tersebut untuk berbicara.
Maka Nabi lantas bertanya, "Mengapa engkau masih menangis ?"
"Allah SWT telah mengampuniku. " Jawab sang batu.
Nabi itu kemudian berkata seraya pergi, "Yang pertama ia menangis
karena berduka cita dan takut, sedangkan yang kedua ia menangis karena
bersyukur dan bahagia".
Menurut satu pendapat, yang dimaksud orang yang mensyukuri kelebihan
adalah orang yang mendapatkan kenikmatan. Allah SWT berfirman, "Jika
kamu bersyukur maka Aku Allah akan memberikan tambahan kepada kamu
sekalian". (QS Ibrahim 7).
Sedangkan yang dimaksud orang yang bersabar adalah orang yang
mendapatkan cobaan. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang sabar" (QS. Al-Anfal 46).
Sekelompok orang datang kepada Umar bin Abdul Aziz. Diantara mereka
terdapat seorang pemuda yang sedang berpidato. Umar bin Abdul Aziz
berkata, "Hindarilah kesombongan" .
Dijawab, "Seandainya urusan ini dikaitkan dengan umur, maka tentu
diantara orang-orang Islam terdapat orang yang lebih berhak memegang
jabatan khalifah," Jawab sang pemuda.
"Bicaralah".
"Kami bukan utusan raghbah (para pecinta) dan bukan pula termasuk
rahbah (orang-orang yang takut kepada Allah). Yang dimaksud raghbah
adalah orang-orang yang mendapatkan keutamaan, sedang yang dimaksud
rahbah adalah orang yang mendapatkan keadilan."
"Siapa kalian sebenarnya? ". Tanya khalifah Umar bin Abdul Aziz.
"Kami adalah utusan syukur. Kami datang ke sini untuk bersyukur dan
berpaling".

Menurut satu pendapat, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Musa AS
"Kasihanilah hamba-hamba- Ku yang mendapatkan cobaan dan keselamatan" .
"Bagaimana halnya dengan orang-orang yang selamat ?" Tanya Musa AS.
"karena sedikitnya mereka bersyukur terhadap keselamatan yang telah
Kuberikan ."Jawab Allah.
Menurut pendapat yang lain, memuji ditujukan kepada jiwa, sedangkan
syukur ditujukan kepada kenikmatan panca indera. Menurut sebagian
ulama, memuji adalah permulaan dan bersyukur adalah tebusan. Dalam
hadits sahih disebutkan bahwasanya permulaan orang yang dipanggil ke
surga adalah orang-orang yang memuji Allah SWT dalam segala hal.
Menurut sebagian yang lain memuji Allah SWT ditujukan kepada sesuatu
yang diberikan, sedangkan syukur ditujukan kepada sesuatu yang dikerjakan

Popular Posts

Anker's Members :

In Memoriam :