Featured Article

Jumat, 30 Juli 2010

Lowongan Kerja Juli 2010

PT Bahtera Pesat Lintas Buana

:: DIBUTUHKAN SEGERA ::


Klien kami, Perusahaan Telekomunikasi & Konstruksi terkemuka membutuhkan Karyawan yang bermotivasi tinggi. Dengan Persyaratan Umum : Pria / Wanita.
Teknikal Support (TS)
(Jakarta Raya)


Requirements:

* Pendidikan SMK, D3 & S1 bidang Teknik / Sistem Informatika / Teknik Elektro / Teknik Telekomunikasi
* IPK minimal 2.50 (D3/S1) & Nilai Rata-rata 7 (SMK)
* Usia maksimal 27 tahun
* Memahami BSS,BSC,MSC,BTS, sistem telekomunilasi seluler (GSM) / CDMA / 3G / SS7 signalling type
* Bersedia bekerja Tim , Shift, ditugaskan dan ditempatkan di luar kota
* Dapat berbahasa Inggris lisan & tulisan

Lamaran dapat dikirim via email ke :

recruitment@bahterapesat.co.id
atau ke: PO BOX 85 JKPWA
sebelum tanggal 27 Agustus 2010

www.bahterapesat.co.id

Lowongan Kerja Juli 2010

PT Bahtera Pesat Lintas Buana

Advertised: 28-7-10 | Closing Date: 27-8-10

:: DIBUTUHKAN SEGERA ::


Klien kami, Perusahaan Telekomunikasi & Konstruksi terkemuka membutuhkan Karyawan yang bermotivasi tinggi. Dengan Persyaratan Umum : Pria / Wanita.

IT Data Base (IT)
(Jakarta Raya)



Requirements:

* Pendidikan SMK, D3 & S1 bidang Teknik / Sistem Informatika / Teknik Elektro / Teknik Telekomunikasi
* IPK minimal 2.50 (D3/S1) & Nilai Rata-rata 7 (SMK)
* Usia maksimal 27 tahun
* Memahami sistem operasi UNIX, database Oracle, Java, PHP, command SQL, Windows & Microsoft Office
* Bersedia bekerja Tim, Shift, ditugaskan ke luar kota dan ditempatkan di luar kota
* Dapat berbahasa Inggris lisan & tulisan

Lamaran dapat dikirim via email ke :

recruitment@bahterapesat.co.id
atau ke: PO BOX 85 JKPWA
sebelum tanggal 27 Agustus 2010

www.bahterapesat.co.id

Senin, 26 Juli 2010

Antara Berpacaran dan Menyegerakan Pernikahan

Pemuda itu menangis tersedu-sedu di samping mihrab mesjid. Mushaf ia dekap erat-kuat ke dadanya. Sesekali ia me-lap air mata yang meleleh. Ia merasa begitu rapuh dan lemah. Begitu tak berdaya menghadapi seorang wanita. Ia telah tergila-gila pada wanita itu. Senyuman wanita itu bagai purnama di gelap gulita malam. Suara wanita itu laksana nyanyian bidadari yang merasuk ke pori-pori jiwanya.

Ia menangisi dirinya yang tak lagi bisa merasakan nikmatnya berzikir. Menangisi hatinya yang tak lagi bisa khusyuk dalam shalat. Menangisi pikirannya yang selalu membawanya terbang ke wanita itu. Oh, sungguh hebat deritanya. Dulu ia begitu kokoh dan teguh. Orang-orang menganggapnya seorang laki-laki yang punya prinsip dan berkarakter. Apalagi saat orang-orang tahu dia begitu mampu menjaga hubungan dengan wanita, popularitas keshalehannnya semakin dikenal dan menjadi buah bibir.

Itu dulu, namun kini ia begitu tak berdaya dan rapuh. Wanita itu betul-betul telah membuatnya terpikat. Seorang wanita yang dalam pandangannya begitu anggun dan sempurna. Cantik, manis, cerdas, hafal al-Qur`an, sopan dan lembut dan lain-lainya. Seorang wanita yang menurutnya layak dijadikan pasangan hidup menuju sorga. Seorang wanita yang semua kriteria calon istri dambaan ia temukan pada dirinya.

Hampir tiap malam ia menangis. Jika dulu, ia menangis di kegelapan malam karena dimabuk rindu pada Sang Pencipta, kini ia menangis karena dimabuk rindu pada makhluk-Nya. Apakah Allah tengah menguji dirinya. Apakah Allah tengah menguji kejujuran cintanya. Ataukah memang sudah waktunya ia menikah.

Ia teringat dengan pesan-pesan Ustadznya sebelum berangkat ke Mesir dulu, pesan-pesan yang masih terekam kuat dalam memorinya.

"Anakku, ketahuilah dalam perjalanmu menuntut ilmu nanti, kamu akan diuji dengan banyak hal, dengan kesusahan hidup, kesulitan biaya, lingkungan, kawan-kawan, dan lainnya. Teguhkan selalu niat di hatimu dan mintalah pertolongan pada Allah setiap waktu. Dan ingatlah, ujian terberat yang akan kamu hadapi nanti adalah wanita, maka berhati-hatilah menghadapi wanita. Jangan pernah mengikuti ajakan nafsu yang menyesatkan."

"Anakku, berpacaran yang saat ini banyak digandrungi anak-anak muda adalah sikap laki-laki bermental kerupuk dan pecundang dan tipe wanita yang tak punya harga diri, menjalin hubungan secara syar`i dan menikahi dengan cara-cara yang baik, itulah akhlak seorang laki-laki yang didamba dan sikap seorang wanita calon penghuni sorga. Bila godaan itu terasa berat bagimu, berpuasa tak sanggup mengobatimu, maka menikahlah, insya Allah itu lebih berkah dan mengantarkan pada kebaikan."

"Anakku, jika kamu mengira berpacaran itu adalah jalan menuju pernikahan, maka engkau telah tertipu oleh nafsumu. Engkau telah termakan bujuk rayu setan durjana. Apakah engkau mau memetik buah dari pohon sebelum waktunya? Apakah engkau mau membeli barang yang telah usang dan pernah dipakai orang?"

"Anakku, janganlah engkau mengira, pacaran yang Ustadz maksud bertemu dan jalan berdua-duan semata, tapi jagalah matamu, pendengaranmu, hatimu dan pikiranmu. Janganlah menjadi pemuda yang lemah. Ingatlah, engkau adalah pemimpin, jangan biarkan hawa nafsu yang memimpinmu."

"Jika suatu saat nanti, dorongan untuk menikah begitu kuat dan menyesak di dadamu, engkau merasa telah siap, namun orang tua belum merestui dan ada jalan lain yang menghambat. Ustadz sarankan, bersabarlah, bersabarlah, dan bersabarlah. Sembari terus mencoba dan berdoa tiada henti pada Allah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan ketahuilah, orang-orang yang sabar akan mendapatkan pahala yang berlipat, dan orang-orang sabar akan memetik mutiara iman yang begitu banyak dalam kesabarannya itu. Dan yakinlah sesungguhnya bersama satu kesulitan ada banyak kemudahan."

"Anakku, jangalah engkau tergoda oleh nafsumu, janganlah engkau tertipu dengan bisikan musuhmu, setan durjana. Mungkin Allah tengah mengujimu, dan menyiapkan untukmu hadiah yang indah. Maka selalulah berbaik sangka pada Allah."

Nasehat-nasehat berharga itu begitu mampu menjadi penawar bagi hatinya yang gelisah. Tapi, itu hanya bertahan sebentar, ledakan perasaannya pada wanita itu ternyata lebih dahsyat dan meluap-luap. Pesan-pesan itu hanya bertahan sesaat, lalu ketika desakan perasaan itu kembali merasuki jiwa, ia menjadi begitu rapuh dan lemah.

Sampai pada akhirnya ia menelpon Ustadznya di Indonesia. Ia menceritakan kegelisahan hatinya, keresahan jiwa, dan gejolak rasa yang selalu menyesak di dadanya. Ustadznya berpesan kembali,

"Anakku, Ustadz bisa memahami keadaanmu, barangkali sudah waktunya bagimu untuk menggenapkan setengah agamamu. Ustadz sarankan lakukanlah shalat istikharah, jika engkau menemukan ada tanda-tanda ke arah sana, maka lakukanlah shalat hajat sebanyak-banyaknya, insya Allah, mudah-mudahan dengan cara demikian Allah membuka jalan untukmu. Mintalah pada Allah dengan air mata penuh harap, menangislah sejadi-jadinya di hadapan Allah. Yakinlah, Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya."

Satu tahun kemudian, sesudah kesabaran yang panjang, setelah menyelesaikan hafalan al-Qur`annya, ia pun menggenapkan setengah agamanya di penghujung bulan Juni 2010. Ia sangat bahagia. Kebahagiaan yang tak bisa dlukiskan dengan kata-kata. Ia telah menikah dengan wanita dambaannya, seorang wanita sorga yang Allah hadirkan ke bumi untuknya. Allah telah memilihkan untuknya seorang pendamping hidup yang mecintai Allah dan dirinya dengan sepenuh jiwa dan raga.

Tak sia-sia selama ini ia menjaga dirinya dari tergelincir pada perbuatan yang haram. Ia sampaikan kerinduannya terhadap wanita itu pada Allah setiap malam, ia titipkan penjagaan untuk wanita itu pada Allah setiap saat. Ia hantarkan doa-doa penuh ketulusan untuk kebaikan dan keselamatan wanita itu selama ini. Dan kini, Allah mengizinkannya untuk memetik buah kesabarannya selama ini. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan hamba yang berserah diri pada-Nya.

Buku Tabungan

Priya menikah dengan Hitesh.Pada pesta pernikahan, ibu Priya memberinya sebuah buku tabungan.Di dalamnya berisi tabungan sejumlah Rs.1000(Rp 246.000).

Dia berkata,"Priya, terimalah buku tabungan ini. Gunakan sebagai buku catatan dari kehidupan pernikahanmu. Jika ada satu peristiwa bahagia atau yang bisa dikenang, masukkan sejumlah uang tabungan di dalamnya. Tulis kejadian yang kamu alami di baris catatan yang ada di sampingnya. Semakin besar kenangan terhadap peristiwa itu, masukkan uang tabungan yang lebih besar. Ibu sudah melakukan di awal pernikahanmu ini..

Lakukan selanjutnya bersama Hitesh. Saat kamu melihat kembali tahun-tahun yang telah berlalu, kamu akan mengetahui betapa bahagianya kehidupan pernikahan yang kamu miliki."
Priya memberitahukan hal ini kepada Hitesh setelah pesta usai. Mereka berdua setuju bahwa ini adalah ide yang sangat bagus dan mereka tidak sabar menanti saatnya untuk memasukkan tambahan uang tabungan ke dalam buku itu.

Ini yang mereka lakukan setelah beberapa waktu :
- 7 Februari : Rs 100 (Rp 24.600), perayaan ultah pertama untuk Hitesh setelah menikah.
- 1 Maret : Rs 300 (Rp 73.800), gaji Priya naik
- 20 Maret : Rs 200 (Rp 49.200), berlibur ke Bali
- 15 April : Rs 2.000 (Rp 492.000), Priya hamil
- 1 Juni ; Rs 1,000 (Rp 246.000), Hitesh dipromosikan ... dan seterusnya ...

Akan tetapi setelah beberapa tahun berlalu, mereka mulai beradu pendapat dan bertengkar untuk hal-hal yang sepele. Mereka saling diam. Mereka menyesal telah menikahi orang yang paling buruk di dunia ... tidak ada lagi cinta ... sesuatu yang sangat tipikal di masa ini.

Suatu hari Priya berkata pada ibunya, "Ibu, kami tidak bisa bertahan lagi. Kami setuju untuk bercerai. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana saya
telah memutuskan menikah dengan orang ini !"

Ibunya menjawab, "Baiklah, apa pun yang kamu ingin kerjakan kalau sudah tidak bisa bertahan. Tetapi sebelum kamu melangkah lebih jauh, tolong lakukan hal ini. Ingat buku tabungan yang ibu berikan saat pesta pernikahan kalian? Ambil semua uangnya dan belanjakan sampai habis. Kamu tidak bisa terus menyimpan catatan di buku tabungan itu untuk sebuah pernikahan yang buruk."

Priya berpikir bahwa itu benar. Jadi dia pergi ke bank, menunggu di antrian dan
berencana menutup buku tabungan itu. Ketika menunggu, dia melihat catatan yang ada di buku tabungan di tangannya. Dia melihat, melihat, dan melihat. Kemudian ingatan akan semua kebahagiaan dan sukacita di masa-masa yang telah lewat muncul kembali di pikirannya. Air mata menggenang dan berurai di pipinya. Kemudian dia bergegas meninggalkan bank dan pulang.

Ketika sampai di rumah, Priya memberikan buku tabungan itu pada Hitesh, dan memintanya untuk memasukkan sejumlah uang ke tabungan itu sebelum mereka bercerai.

Hari esoknya, Hitesh mengembalikan buku tabungan itu pada Priya. Dia menemukan tambahan tabungan sebesar Rs 5000 (Rp 1.230.000) dengan catatan di dalam buku tabungan:
'Ini adalah hari dimana saya menyadari betapa saya mencintaimu sepanjang tahun-tahun yang telah kita lewati. Betapa besar kebahagiaan telah kamu bawa untukku. "Mereka berdua berpelukan dan menangis, dan meletakkan buku tabungan itu kembali di tempat semula.

Anda tahu berapa uang yang terkumpul saat mereka pensiun? Saya tidak bertanya pada mereka. Saya percaya uang bukan masalah lagi setelah mereka berhasil melalui tahun-tahun yang indah di sepanjang kehidupan pernikahan mereka.

* * * * *
"Saat engkau jatuh, jangan melihat tempat di mana kamu jatuh, tetapi lihatlah tempat di mana kamu mulanya tergelincir. "

= Hidup adalah memperbaiki kesalahan-kesalahan =

Penyusuan yang Sempurna: Antara Sains dan Alquran

Baru-baru ini, para ilmuwan menemukan bahwa makanan sempurna untuk bayi adalah air susu ibu, dan bahwa memberi makan tidak akan lengkap tanpa ibu menyusui bayinya selama dua tahun. Itulah yang dilaporkan Organisasi Kesehatan Dunia di awal abad 20. Sesuatu yang telah dikatakan Al-Qur’an empat belas abad yang lalu.

Para dokter berpikir menyusui bayi hanya hanya memberi dampak psikologis hubungan dengan ibunya dan tidak ada manfaat lebih jauh. Tetapi setelah melakukan riset selama setengah abad, manfaat besar lainnya untuk menyusui mulai muncul, bahkan dewasa ini para ilmuwan menemukan manfaat baru dari susu ibu. Kekebalan tubuh yang disebut imunoglobulin ditemukan pada susu ibu pada awalnya. Ia memberikan kekebalan tubuh terhadap berbagai bakteri dan virus. Bahkan para ilmuwan menemukan bahwa jumlah bakteri dalam usus bayi yang diberi susu sapi adalah sepuluh kali lipat lebih banyak daripada yang ada dalam usus bayi yang diberi susu ibu.

Keuntungan Bagi Anak:

Kekebalan tubuh "imunoglobulin" membantu bayi selama tiga bulan pertama untuk melindungi tubuh dari serangan kuman terus-menerus, bahkan membantunya untuk membentuk dan memperkuat sistem kekebalan sendiri. Apalagi beberapa penelitian menunjukkan bahwa sistem kekebalan bayi tumbuh lebih cepat ketika ia diberi susu ibu. Susu ibu juga mengandung unsur kekebalan yang disebut "mucins" yang mengandung banyak protein dan karbohidrat. Zat ini mengikuti bakteri dan virus dan sepenuhnya menghilangkan mereka dari tubuh tanpa efek samping, berbeda dengan obat-obatan kimia.

Susu ibu juga memberikan stabilitas psikologis bayi, membantu tidur dan tenang, ia bekerja sebagai analgesik alamiah terbaik bagi bayi. ASI melindungi bayi dari alergi. Bahaya gizi pada susu sapi, misalnya, hal itu meningkatkan kemungkinan serangan kanker delapan kali lipat.

Keuntungan Bagi Ibu

Banyak studi yang dilakukan di tiga puluh negara menunjukkan ibu yang menyusui bayinya kurang terkena kanker payudara.

Rahim melebar dua puluh kali selama kehamilan dan melahirkan. Penelitian menunjukkan menyusui bermanfaat untuk membantu rahim kembali ke ukuran normal. Sebaliknya ibu yang tidak menyusui bayinya ukuran rahimnya tetap lebih dari batas normal. Selain itu, menyusui juga melindungi dari kanker rahim.

Penyusuan alami membantu ibu untuk mengurangi berat badannya dan melindungi dirinya dari kegemukan. Bahkan ia juga bekerja sebagai analgesik alami rasa sakit bagi ibu juga. Penyusuan alami juga membantu ibu dan anak untuk tidur nyenyak.

Manfaat Bagi Masyarakat

Penyusuan alami tidak mahal sebaliknya buatan menyusu. Kita mungkin terkejut ketika kita tahu bahwa American Academy for Pediatric menekankan jika Amerika Serikat mengikuti cara menyusu alami itu akan menghemat 3600 juta dolar per tahun.

Penyusuan alami juga berdampak positif pada lingkungan, karena polusi terjadi akibat proses manufaktur, pengeringan susu botol susu sapi, dan sampah yang dihasilkan dari penggunaan susu dan botol.

Periode Ideal Untuk Menyusui

Organisasi Kesehatan Dunia dan Organisasi UNISAF melakukan banyak penelitian pada bayi, dan mendapat hasil dari penelitian ini bahwa periode yang ideal adalah dua tahun. Karena selama dua tahun pertama bayi memiliki kebutuhan mendesak terhadap susu steril seperti susu ibu, sebagai sistem kekebalan agar ia dapat menghadapi setiap kemungkinan penyakit sebelum dua tahun usianya.

Organisasi Kesehatan Dunia menyelenggarakan konferensi berjudul "Makanan Pendamping ASI" pada tahun 2001 dengan kesimpulan sebagai berikut:

Dua tahun pertama dari kehidupan bayi adalah jendela kritis di mana fondasi untuk pertumbuhan dan perkembangan yang sehat dibangun. Menyusui bayi merupakan inti perawatan dalam periode ini.

Selain itu, dalam kesimpulan dari konferensi, periode ideal untuk menyusui adalah dua tahun, karena ada kebutuhan mendesak bagi bayi terhadap kekebalan tubuh untuk mengembangkan sistem kekebalan selama periode ini. ia tidak dapat menemukannya selain dalam susu ibu.

Dokter menekankan bahwa semua jenis makanan tidak bisa cukup bagi bayi selama dua tahun pertama usia bayi, karena bayi menghalami banyak faktor yang mengakibatkan banyak penyakit. Sehingga dua tahun pertama merupakan masa kritis dan sensitif untuk bayi di mana kita harus bergantung pada susu ibu untuk menghindari bahaya ini.

oleh Abd-Alda'em Al-Kheel dan disunting dari eramuslim.com

Ini Kewajiban, Bukan Pilihan!

Banyak orang menggunakan hari atau momen-momen tertentu seperti ulang tahun, tahun baru, ramadhan atau lebaran untuk melakukan hal-hal penting atau dianggap istimewa dalam hidupnya. Salah satu yang melakukannya adalah Anisa, putri semata wayang pak Ahmad ( keduanya bukan nama sebenarnya ).


Anisa yang kini duduk di bangku kelas lima sekolah dasar ini menggunakan hari pertama masuk sekolah untuk memulai berjilbab. Juga sang ibu yang menjadikan momen mudik lebaran empat tahun silam untuk merubah penampilannya dengan mengenakan jilbab.

Anisa baru memakai jilbab ketika sudah kelas lima sekolah dasar? Itu artinya Anisa sudah berusia lebih dari sepuluh tahun? Dan, sang ibu baru mengenakan jilbab empat tahun yang lalu? Saat itu berarti usianya sudah lebih dari dua puluh tahun? Betul! Pak Ahmad sadar dan mengakui bahwa istri dan juga anaknya terlambat mengenakan jilbab.

Tapi yang jelas, pak Ahmad tidak ingin keterlambatan ini menjadi alasan untuk tidak melakukan. Terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Allah masih memberikan kesempatan, jangan sampai berlalu tanpa dimanfaatkan.

Pak Ahmad menyadari bahwa salah satu kekhilafannya di masa lalu adalah ketika memilih calon pendamping, kecantikan wajah adalah faktor utama yang dia cari. Sopan santun dan perilaku calon istri menjadi pertimbangan berikutnya. Calon istri yang sholehah menurutnya saat itu tak berkait dengan berjilbab atau tidak. Untuk apa berjilbab jika akhlak dan tingkah lakunya tidak terkontrol, lebih baik memilih gadis yang tidak atau belum berjilbab tapi memiliki akhlak baik dan terjaga tingkah lakunya, begitu pertimbangan Ahmad remaja kala itu. Sama seperti pola pikir wanita yang kini menjadi istrinya.

Begitupun ketika rumah tangga mereka dikarunia seorang anak perempuan. Pasangan muda ini begitu takjub dengan kemolekan rupa sang bayi. Mereka mengakui kecantikan paras buah hati mereka, bahkan mereka membanggakannya. Tak terbersit sedikitpun saat itu untuk membiasakan putri kecilnya mengenakan jilbab. Bahkan dibanding sang istri, Ahmad sering berburu pakaian untuk putri kecilnya. Tentu saja pakaian yang dibeli sebagian besar adalah pakaian anak-anak yang beraneka ragam corak dan modelnya, bukan pakaian takwa untuk seorang muslimah. Baik pak Ahmad maupun istrinya, seringkali merasa terpesona dengan kecantikan buah hati mereka.

Waktupun berlalu, dan pak Ahmad terbukti tidak bisa membohongi hati kecilnya. Dia ingin istri dan putrinya mengenakan jilbab. Keinginan ini semakin kuat seiring dengan bertambahnya pengetahuan tentang agama. Dua kali seminggu pak Ahmad mengikuti pengajian umum, setiap malam Rabu di rumahHaji Nurdin dan Minggu pagi di salah satu pondok pesantren tak jauh dari tempat tinggalnya. Buah dari mengikuti pengajian ini salah satunya adalah pak Ahmad merasa wajib melindungi istri dan anaknya dari kobaran api neraka, salah satunya dengan berjilbab.

“ Saya akan membelikan beberapa baju dan kerudung untuk membuktikan bahwa saya serius,” begitu strategi pak Ahmad mengatasi keraguan sang istri yang selalu merasa belum siap untuk berjilbab. Alasan yang kini tak bisa lagi dipahami dan ditolerir oleh pak Ahmad. Apanya yang diragukan, ini sebuah kewajiban, bukan pilihan! Siap tidak siap, kewajiban harus dilaksanakan, tinggal meluruskan niat dan mengikhlaskan hati agar bernilai ibadah.

Strategi Pak Ahmad berhasil. Meski awalnya masih agak ragu, sang istri akhirnya memilih mudik idul fitrinya untuk memulai berjilbab. Pak Ahmad terus memberikan semangat dan masukan bagaimana seharusnya berjilbab yang baik dan benar menurut Islam. Alhamdulillah, dari hari ke hari sang istri semakin mantap mengenakan jilbabnya. Sang istri tak pernah melepaskan jilbabnya kecuali di hadapan orang-orang yang berhak melihatnya.

Melihat perubahan penampilan sang ibu yang berjilbab, rupanya tidak serta merta membuat Anisa ingin merubah penampilannya. Bahkan meski sudah tiga tahun memakai jilbab, sepertinya sang ibu dan juga pak Ahmad belum serius menyuruh Anisa mengenakan jilbab. Hanya sesekali mereka mengingatkan agar Anisa tetap mengenakan kerudung yang biasa ia gunakan untuk mengaji setiap pagi. Harus mereka akui bahwa meraka masih bahkan semakin mengagumi kecantikan sang buah hati. Sayangnya, Anisa menyadari bahwa bapak ibunya mengakui kecantikannya dan belum terlalu serius menyuruhnya berjilbab.

Memasuki tahun ke empat setelah sang istri memakai jilbab, seiring bertambahnya usia Anisa, kegundahanpun menyelimuti hati pak Ahmad. Perang batin kerap terjadi dalam diri pak Ahmad. Satu sisi dia senang melihat putri semata wayangnya dengan dandanan seperti biasanya. Satu sisi dia juga khawatir kalau-kalau Anisa kelak tidak mau mengenakan jilbab. Selama ini pak Ahmad masih memberikan kelonggaran kepada putrinya dengan pertimbangan usianya yang masih anak-anak. Tak apalah tak memakai jilbab, toh masih anak-anak, begitu cara pak Ahmad membenarkan diri selama ini.

Memasuki usia sepuluh tahun, fisik Anisa mulai menunjukan perubahan. Perlahan Anisa tumbuh menjadi remaja yang cantik. Hal inilah yang kemudian membuat pak Ahmad begitu khawatir. Maka, dengan sedikit memaksa pak Ahmad meminta Anisa untuk segera mengenakan jilbab. Meskipun belum baligh, paling tidak ini untuk belajar membiasakan. Begitu jawaban pak Ahmad setiap kali Anisa berusaha menunda sampai nanti dia sudah baligh. Tak mudah mendapatkan kesadaran Anisa untuk segera berjilbab. Hal ini sebenarnya sudah diduga baik oleh pak Ahmad maupun sang istri. Inilah resiko yang harus mereka hadapi karena tidak membiasakan anak putrinya berjilbab sejak usia dini.

Pak Ahmad dan juga sang istri tak mau menyerah. Inilah kesempatan untuk menebus kesalahan mereka dulu. Dengan berbagai pendekatan, alhamdulillah akhirnya Anisa bersedia berjilab. Bahkan kesanggupan ini didasarkan atas kesadaran, bukan karena desakan bapak dan ibunya. Dan hari pertama masuk sekolah kelas lima dipilihnya sebagai saat yang tepat untuk memulai lembaran baru dalam hidupnya sebagai gadis remaja berjilbab. Anisa yakin bahwa kecantikan tidak akan hilang hanya karena mengenakan jilbab, justru akan terlihat semakin cantik seperti yang dikatakan bapak dan ibunya.

“ Alhamdulillah, saya lega sekarang. Saya merasa anak saya seperti terlahir kembali “ jawab pak Ahmad ketika ditanya bagaimana perasaannya setelah Anisa berjilbab. “ Tapi saya juga tidak boleh merasa tangung jawab saya sudah selesai. Saya harus terus menyemangati istri dan anak saya agar tetap istiqomah dengan jilbabnya. Juga saya harus ikut mengawasi cara berjilbab mereka sebab sekarang ini banyak orang yang salah mengartikan cara dan tujuan mengenakan jilbab “ katanya melanjutkan.

Setiap wanita menginginkan dirinya terlihat cantik, itu kodrat mereka. Wajar apabila kaum wanita begitu memperhatikan dandanan dan juga pakaian demi mendapatkan penampilan maksimal. Tak heran apabila kemudian model pakain wanita jauh lebih banyak dibanding model pakain kaum pria. Begitupun jilbab, dari hari ke hari modelnya terus berkembang. Tidak masalah seorang muslimah tampil modis asalkan tetap terjaga cara dan tujuan berpakaian.

Harus kita akui bahwa masih ada muslimah yang mengenakan jilbab setengah-setengah. Ketika hendak kerja atau bepergian jauh, mereka mengenakan jilbab. Tapi ketika sudah kembali ke rumah jilbabpun ditanggalkan, kembali berpakaian seksi di hadapan orang-orang yang tidak berhak melihatnya. Juga ada yang menganggap seolah jilbab itu sekedar penutup rambut dan kepala, atas tertutup tapi bawah dibiarkan terbuka. Masih ada muslimah yang berpakaian layaknya telanjang. Seluruh badannya tertutup pakaian tapi lekuk tubuhnya tampak begitu jelas. Juga ada yang memilih pakaian yang bahannya transparan layaknya parcel, membungkus rapat tapi isi di dalamnya terlihat nyata. Astaghfirulloh! Yang seperti itu belumlah bisa disebut berjilbab. Tapi kita juga tidak boleh mengecilkan usaha mereka, paling tidak kita harus tetap menghargai mereka yang berusaha menutup auratnya, hanya perlu diluruskan niat dan caranya.

Yang perlu kita perjuangkan adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran muslimah bahwa berjilbab itu sebuah kewajiban, bukan pilihan. Ini tidak mudah karena erat kaitannya dengan hidayah. Ibunya berjilbab tapi anaknya selalu berpakaian seksi atau sebaliknya, itu salah satu buktinya. Selalu ragu, malu, belum siap adalah perangkap setan yang paling sering diungkapkan. Bahkan, setan selalu berusaha menghalangi manusia dari jalan yang benar. Menjilbabi hati terlebih dulu, yang terpenting hatinya, untuk apa berjilbab kalau hatinya tidak. Alasan-alasan ini tidak salah meski tidak sepenuhnya benar terutama jika yang kita bicarakan mengenai jilbab. Menjaga hati itu adalah kewajiban setiap orang, laki-laki dan perempuan. Gerak laku tubuh kita bergantung pada sehat tidaknya hati. Tapi kewajiban berjilab bagi muslimah tidaklah bisa digantikan dengan sekedar menjaga hati. Setiap muslimah terutama yang sudah baligh diwajibkan menutup seluruh auratnya dari orang-orang yang tidak berhak kepadanya. Ini adalah perintah untuk menutupi fisik muslimah, bukan hati yang letaknya di dalam. Tak ada orang yang tahu gerak hati seseorang kecuali Allah dan dirinya. Rasanya sulit mengatakan bahwa hati seseorang telah benar-benar beriman dan bertaqwa sementara kewajiban yang Allah berikan masih diabaikan.

Saudariku, kapankah kalian akan berjilbab? Hari ini, besok, minggu depan, bulan depan? Nanti, saat menikah, berulang tahun, tahun baru? Menunggu bulan Ramadhan yang insya Allah akan datang sebentar lagi, atau pas idul fitri nanti? Yang saya tahu Islam tidak mensyaratkan waktu-waktu tertentu seperti itu. Kalaupun ada yang memilih saat-saat khusus seperti yang dilakukan Anisa dan ibunya, itu bukan aturan agama tapi barangkali sekedar untuk mendapatkan sebuah kesan pribadi. Saya sarankan, mantapkan niat dan mulailah saat ini, setelah membaca tulisan ini. Saudariku mungkin bisa menjamin bahwa niatmu sudah kuat, tapi saya yakin tak ada satupun yang bisa menjamin apa yang akan terjadi setelah ini. Masih adakah waktu dan kesempatan untuk merubah niat menjadi tindakan nyata? Saudariku, sadarlah bahwa menutup aurat itu sebuah kewajiban, bukan pilihan.

Saya tidak bermaksud menilai, menghakimi atau menunjuk seseorangpun di sini, tapi saya merasa perlu mengingatkan keluarga saya, kakak dan adik saya, keponakan-keponakan saya yang sampai saat ini belum seluruhnya berjilbab. Saya sadar bahwa ini berkaitan dengan hidayah, saya hanya sekedar mengingatkan. Bahkan dalam hal lain, sayapun sebenarnya butuh untuk diingatkan. Wallohualam.

disunting dari eramuslim.com

Popular Posts

Anker's Members :

In Memoriam :